Cerpen di Radar Banten: Saat Terhenti

Saat Terhenti

Oleh Suyatna Pamungka

Ternyata aku masih di sini. Di bumi kita. Padahal aku begitu cemas saat itu. Aku mencari-cari ke setiap belahan bumi ini. Namun, tak pernah aku temukan mereka. Perasaan ini sedikit lega karena masih bisa menjamah perkampunganku. Tapi di mana orang-orang itu? Ayah, Ibu, Adik dan Bibi-bibiku? aku tak bisa melihat mereka atau kesemuanya juga telah mati?. Tidak! aku masih ingat betul orang-orang itu masih hidup. Lalu kenapa aku masih dibiarkan sendiri. Kemanakah orang-orang mati yang lain?. Aku tak menemukannya satupun. Aku bukan tiba di alam kubur atau alam barzah seperti yang diceritakan ustadzku. Ternyata Aku masih tetap disini, di bumi kita. Tapi kenapa begitu sepi, tanpa teriakan-teriakan mereka.

Udara di sini masih seperti dulu ketika aku masih hidup. Pohon-pohon mangga masih diperbolehkan tumbuh. Rumahkupun masih kokoh berdiri, masih lengkap dengan tetangga-tetangga yang itu-itu saja, sama sekali tidak berubah. Aku hanya menunggui di depan. Di jalan setapak yang menghubungkan rumahku dengan rumah-rumah orang di sini. Inisiatif masuk ke rumah (Seenggaknya mencari penghuni rumah) tidak muncul sama sekali dalam benakku. Tapi aku ingat mereka masih hidup dan akulah yang telah mati. Entah kapan kematianku itu terjadi, tahu-tahu aku sudah berada disini dengan suasana-suasana kematian di pundakku. Tentunya Allah tidak pernah berbohong kalau aku telah meninggalkan mereka terlebih dahulu.

Dengan beberapa kesabaran aku menunggui orang-orang yang belum mati Akhirnya aku menemukan suatu waktu, entah mereka menamai waktu apa itu. Rumahku masih kokoh, masih tersinar lamat matahari tapi aku tak bisa melihatnya langsung, mungkin bersembunyi di alam kehidupan? Karena disini sudah menjadi kematian? Entah! Tapi mereka benar-benar muncul untukku, untuk aku tanyai, untuk aku katai: “aku tak ingin mati”.

Aku masuk ke rumah itu, mungkin masih rumah orangtuaku. Tak lagi ada suara-suara ayam berebut makan di sekitar sini. Biasanya jam-jam segini Ibu mengurung ayamnya sebelum diberi makan adonan bekatul. Kemana ayam-ayam itu? Apa mereka juga telah mati sepertiku?.

Langkahku telah genap memasuki teras. Untunglah orang-orang itu sedang berkumpul juga disini: Bibi, Marni saudara sepupuku, Akhwan ketua pemuda kampung, sepertinya masih banyak lagi yang di dalam. Tapi aku tak ingin masuk dulu, aku ingin disini saja. Di teras bersama Bibi. Heran juga kenapa ada begitu banyak orang di rumahku?. Sedang apa mereka?. Apakah merayakan kematianku?.

Aku menyalami Bibi, Marni, Akhwan satu persatu. Marni menatapiku seperti penuh kelegaan. “Sudah balik kamu?” Bibi tidak memanggilku Toni, atau Ony lagi. Bibi memanggilku “kamu”. Lalu apa maksudnya?. Apa aku ini hantu?. Mungkin!. Aku duduk menyebelahi Marni, dia juga tidak takut, sepertinya. “Dia sudah mati” lalu Bibi memberi sedikit bahasa yang dibubuhi isyarat tersendiri. “Ooh” bibir Marni seperti hendak mengucap vokal bulat itu, tapi tertelan lagi. Mereka tidak mengajakku berbicara. Mereka berubah. “Aku tak melihat Ibu, kemana dia?” belum sempat Bibi menjawab, tiba-tiba Ibu muncul dari ruang itu. Ruang yang biasa aku gunain buat menonton TV bersama mereka. Kini entah menjadi apa. Sepertinya di dalam ruang itu masih banyak orang menggemakan bahasa yang tak bisa aku mengerti.

Ketakutan ini meluap begitu Ibu didepanku. Aku memeluknya erat-erat. Aku menangis di sana. “Bu? aku tak mau mati dulu” berulang-ulang kata itu aku ucapkan seperti memohon. “Tidak bisa, kamu harus terima. Besok kamu mulailah mengembara, tanpa ditemani orang-orangmu yang dulu. Ibu, Bibi, Adik semuanya tidak boleh ikut. Karena Allah menginginkan begitu”. “Jadi aku harus sendirian?. Aku takut Bu?, mungkin tidak akan kuat menjalaninya, tapi setidak kuat seperti apapun Aku tak akan mati lagi. Kesepian itu terlalu sepi Bu?” Ibu sepertinya hendak menanggapi dengan sesuatu di tenggoroknya yang ikut gondok. Ibu sepertinya ingin melepas kesepianku, tapi sepertinya tak berdaya.

“Kenapa Ibu diam ? tanyaku. Jawabannya hanya diam, dan tangisan mengisak dada. Aku melanjutkan memeluknya, seolah tak ingin dipisahkan oleh kematian itu. “Apa Ibu tega melihat Aku sendirian seperti ini?. Apa Ibu akan membiarkan tubuhku remuk dibogem Si Malik?. Sebab Aku masih merasa kecil, yang busuk dan terkutuk. Coba pikir Bu? apa mungkin dosa-dosa itu terampuni setelah ini, setelah duniaku beralih kematian ini. Aku cuma Mahasiswa, masih sehijau Mahasiswa dan dosa-dosa tidaklah masih seumur mahasiswa. Mungkin telah menjadi ratusan juta raksasa berlabel dosa-dosa. Banyak sekali Bu? sampai Aku ngeri menghitungnya. Hari ini aku baru bisa merinci dosa-dosa itu. Lalu menyadarinya dengan penyesalan yang kosong, pasti. Sebab Allah memberikan waktu begitu aku hidup. Dan hidup itu tidak mampu mengajariku menghitung dan merinci dosa-dosa. Aku tak pernah berpikir akan menyesali sampai sedalam ini. Andai saja tahu, sesal ini benar-benar (akan) ada, aku tak akan sudi mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh temanku, mungkin teman mereka juga, tapi Aku tak mau juga tak berteman. Bujukkannya terlalu manis Bu? Sampai diri ini tak pernah diberi kesempatan untuk mengatakan “tidak”, mulut ini seperti disumpah akan berkata “iya” terus.

Ibu terdiam, Aku juga ikut diam. Dia melepas pelukan, lalu mendudukkanku pada kursi tua. Ibu duduk menyebelah dariku. “Lihat itu!” sebatang telunjuk tangan kanan mengarahkan pandanganku ke jalan kecil depan rumah. “Siapa mereka Bu?” Aku keheranan karena belum pernah melihat mereka sebelum ini, juga belum pernah tahu ada yang seperti mereka. “Mereka mungkin teman-temanmu?” Ibu seolah bertanya tapi sedikit melakukan penekanan dengan intonasi itu. Aku semakin bingung kenapa Ibu mengatakan mereka adalah teman-temanku. “Siapa mereka?” Pandanganku suwung ke depan, nada perkataan sedikit Aku rendahkan, karena Aku takut.

Mereka orang-orang yang akan digiring Si Malik menuju kamarnya. “Lalu siapa mereka? dan kenapa?” Semakin besar ketakutan ini meminta perlindungan, inginku. “Ibu tidak tahu siapa-siapa mereka, karena Ibu benar-benar tidak pernah menjumpai orang-orang seperti mereka pada diri Ibu sendiri. Mereka makhluk di luarku. “Lalu siapa yang pernah Ibu jumpai pada diri Ibu sendiri?” penasaran terus memburuku. “Mudah-mudahan Ibu tidak salah mengenalnya lebih jauh, sehingga kesimpulan Ibu tentang mereka tidak sia-sia apalagi dipersalahkan. Tapi Ibu juga bukan makhluk yang sempurna, mungkin juga mereka yang barusan kau lihat juga bisa kau lihat pada diri Ibu. Setahuku sejauh umur ini menginjak angka 50, Ibu ingin selalu dikatai orang baik. Makanya Ibu mengenal orang yang baik dalam diri ini, orang yang patuh kepadaNYA, serta orang yang senang menolong seperti penolong, atau berjuta-juta orang dengan jubah yang dibubuhi kebaikan karena amalnya. Ya! Seperti itu kurang lebih mereka yang Ibu jumpai. Meskipun sekali lagi: Ibu juga bukan makhluk yang sempurna. Ibu sedikit terbatuk, mungkin dipanggil usianya. “Jadi orang-orang yang barusan lewat itu, di luar diri Ibu”. “Bukan hanya Ibu, semua orang. Seharusnya begitu” Ibu memantapkan dengan kalimat itu. “Termasuk Aku Bu?”. “ Tentu saja. Seharusnya begitu”. Aku malah semakin tidak berpihak pada ketenangan dengan sabda-sabda Ibu, hati ini semakin gundah, seperti merasakan sesuatu yang hebat akan terjadi pada diri ini. Aku juga tidak menyangka orang-orang yang barusan lewat ternyata banyak Aku lihat pada diriku. Apakah Aku harus membunuhinya satu-satu? Mungkin, tapi Aku juga bukan makhluk yang sempurna.

Aku tanpa pertanyaan, Ibu juga sepertinya sedang membuat pertanyaan, atau memikirkan pesan-pesan yang lebih hebat. Suasana masih seperti semula. Bibi, Marni, dan Akhwan serta orang-orang yang Aku lihat di dalam rumah seperti melakukan pekerjaan yang berulang. Belum selesai juga sampai saat ini.

Mata ini melihat lagi orang-orang berbaris banyak sekali, seperti tadi. Aku tidak mengatakannya atau menanyakannya kepada Ibu, karena mungkin dia juga sudah tahu. “Kamu juga tahu mereka?” kembali Ibu menunjuk mereka. “Aku sudah paham semua Bu?”. “Baguslah” Ibu seperti menyimpulkan Aku benar-benar sudah mengerti, padahal hati ini masih pada ketakutan yang tadi. Apakah karena Aku memang begini? Karena Aku sebagai manusia.

“Lalu untuk apa kamu masih duduk di sini?” Ibu seperti menginginkan Aku pergi. Tapi kemanakah harus pergi? Langkah ini sungguh tak tahu kemana, harus mengikuti orang-orang yang barusan lewatkah? Tapi apa Aku pantas? Atau mengikuti yang mengikuti sebelumnya? Tapi Aku takut.

Mata ini mengungkapkan tangisan, mungkin berupa penyesalan. “Aku takut Bu?” sedikit saja Aku memohon agar diberi nasehat-nasehat lagi. “Itu risikomu” Tidak mungkin, Ibu sampai mengataiku seperti itu. “Berarti Aku harus mengikuti orang-orang yang pertama lewat?” Bibir ini hanya menyisakan getir. “Orang-orang yang kamu jumpai di dalam dirimu akan mengajari ke mana seharusnya kamu melangkah. Sebab mereka tidak akan pernah membohongi siapa saja apalagi dirimu dan Allah. Mereka tahu dan menyadari siapa mereka. Mereka juga ikhlas hendak diapa-apakan, mereka patut kamu namai boneka, apa kamu telah merawat bonekamu dengan kebajikan-kebajikan?”. Aku tak menjawab, apalagi bertanya tentang sesuatu yang mungkin lebih menakutkan. Sebab Ibu hanya bisa begitu, tak sedikitpun mau membantuku andai malik menyuruhku masuk ke kamar api itu. Aku takut sekali.

“Tunggu apa lagi? Pergilah. Pertanggungjawabkan orang-orang yang kamu jumpai di dalam dirimu!” Ibu kembali mengusirku. Aku memasuki sebuah ruangan 3×4 meter, sepertinya kamarku dulu. Lalu aku tanggalkan pakaian yang sepertinya asing sekali ditubuhku. Apakah ini yang mereka namai kain kafan? Apakah berarti aku dipanggil mereka “pocong”? entahlah! aku tak mempedulikannya lagi. Aku hanya ingin mengenakan celana jeans yang biasa aku pakai waktu ngampus, biar sedikit nyaman. Sebab aku belum terbiasa memakai setelan kafan, dan aku takut mengingat aku belum beribadah, beramal, saling menolong, lalu hati ini menangis. Tapi untuk apa? sudah terlambat!

(Semarang, Desember 2006)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: