jamaah

Jamaah

Jeda. Setiap tindakan dan tingkah lakiu hendaknya mengenal kata ini. Jeda adalah obat ketika manusia sibuk meng-aktivitas.

Dan jeda yang baik bukanlah pada ruang-ruang ramai dengan aneka emosi di sana. Jeda yang baik adalah pada kesenyapan hati yang dibuat senyap.

Sementara perjalanan Semarang-Purwokerto yang memakan waktu lima sampai enam jam, aku –biasa –jeda di tengah. Setelah capek sekali berkejar-kejaran dengan aneka jenis kendaraaan dengan aneka emosi di sana, sdah saatnya aku mengistirahatjan (bukan badanku ternyata) jiwa-jiwa pengemosi.

Aku bertemu bertemu aneka manusia juga di masjid ini. Masjid yang letaknya di tengah kota Temanggung yang masih menggunakan tata kota itu-itu juga: sebelah timurnya sudah pasti alun-alun, timurnya lagi penjara, sebelah utara alun-alun pastilah kabupaten, dan sebelah selatannya kawedanan. Namun, meskipun asal dan bentuk muka mereka benar-benar berbeda denganku ternyata kami masih sesaudara, Islam.

Jam dinding menunjuk pukul 14:00. Shalat dhuhur berjamaah sudah lama lewat. Waktu aku masuk ke masjid –dengan membawa tas gendong agak besar –aku melihat mereka sudah shalat bersendiri-sendiri. Ya, meskipun ada yang membentuk kalangan yang sepertinya sudah usai salam.

Rasa itu entah timbul dari mana. Dari lima orang yang sudah mulai memulai shalat bersendiri-sendiri, aku bukan makmum salah satu dari mereka tapi malah bersendiri juga. Kini, enam orang termasuk aku, shalat bersendiri. “Huhh! Ngapain juga susah-susah makmum sama mereka! Aku juga bisa shalat bersendiri!”

Perkataan yang sungguh aku sesali sekali sebab ketika bilangan rakaatku samapai pada hitungan yang ketiga, seseorang menepuk ringan pundakku. Aku andaikan dia bersapa: “Saya ikut makmum, Mas!?” lalu aku melebarkan senyum tapi segara padam setelah sadar aku telah sok bersendiri, tadi.

Setelah salam, aku sempatkan menengok wajah dua makmumku tadi. Bapak-bapak? Seketika aku ingat ustadz Karim perihal Imam. “Yang dituakan, yang bacaan Qur’annya faseh, yang….” sekilas bayangan ustdz melintas.

Aku meninggalkan mereka setelah doa singkatku selesai. Lalu-lalang kendaraan mengitari jalan alun-alun yang dibuat searah memaksa mataku menikmatinya. Semiliran angin menerbang-nerbangkan ombak rambutku yang mulai memanjang.

Aku bersandar pada tiang di pojok. Sehingga aku bisa mengamati lalu-lalang dengan leluasa.

Datang lagi, serombongan jamaah. Mereka mengenakan seragam putih abu-abu. “Anak MTs!” tebakku. Mata ini tak sedetikpun luput mengamati dan memilah wajah yang termenarik. “Dasar mata keranjang!” cemooh entah hati yang mana.

Sepuluhan menit, rombongan itu selesai shalat, aku masih bersandar seperti tadi. Mereka berjumlah lima oran dan aku suka malu berhadapan dengan jumlah segitu. Sebaliknya, mereka dengan beraninya menggodaku. Kini aku jadi cewek dan mereka jadi segerombolan cowok penggoda, pikirku. “Sialan! anak SMA berani goda-goda Mahasiswa!” gumamku.

“Hai, Mas? Lagi perjalanan ya?” sapa salah seorang dari mereka setelah –mungkin –menarik simpulan dari jaket, tas besar, dan slayer yang terserak di sekelilingku. “Iya? Kalian sudah pulang?” balasku berbasa-basi. “Iya, Mas,” gadis itu mendekat, menyebelah. Sementara yang lainnya seperti dikode, mereka menjauh dan membentuk kalangan sendiri di pojokkan selatan.

“Wah, jauh banget ya Mas? Pasti capek!” komentarnya setelah aku bercerita perjalanan jauhku mengendarai sepeda motor. “Masa sebulan sekali sih, Mas? Apa nggak terlalu capek?” komentarnya lagi setelah kubercerita lebih banyak hal.

“Capek jelas! Bahkan di semester-semester awal aku terkena flek paru-paru gara-gara sering pulang. Tapi….” kata-kataku menjeda. entah sengaja atau tidak yang pasti ingin sekali kujeda. “Tapia apa, Mas?” bujuknya. Bah! Baru sedetik ketemu, berani-beraninya aku mengumbar mulut! Dasar cowok berbibir cewek!

“Biasalah…. home sick! Hahaha” aku mengajaknya tertawa. “Kangen pacar di kampung ya?” godanya. Aku menahan kelu yang berat di kerongkongan. Dan aku memilih jeda lagi, sampai akhirnya dia menyikut lenganku mengisyarat agar aku segera lanjut bercerita.

“Aku kangen sama Ibu. Selalu kangen!” sebuah kaliamt yang malah membuat gadis malah cekikikan lama sekali. Dia kembali bersuara: “Lha? Anak mami, to?” lagi-lagi aku dipaksa bisu.

“Aku kangen berjamaah sama ibu. Selalu kangen.” Kataku kemudian yang berhasil menyihirnya mematung.

“Sebenarnya untuk apa ibuku menyekolahkan aku jauh-jauh? Habis tak sedikit uang! Habis komunikasi! Habis jamaah yang (dulu) rutin setiap magrib, isya, dan subuh! Untuk apa semua itu? Misi yang dinamai uang! Ya, itu dia!” entah siapa yang mengajari tiba-tiba aku berkhotbah.

Ibuku belum terlalu tua. Tetapi akibat beban hidup yang seperti terus menindihnya, kini dia tampak cepat tua dengan ukiran kerut di mana-mana. Dan aku, (mungkin) anak yang paling tak tahu diri. Sudah keluarga miskin, bapak sudah meninggal, masih juga minta dikuliahkan!. Fuh! Semua gara-gara pamanku! “Nilaimu bagus, kau cerdas, masalah uang menyusul, nanti kita bicarakan bersama-sama! Yang penting kau masuk kuliah dulu!” ujar paman waktu itu yang berakibat ibuku harus tetap bahkan meningkatkan produksi tape-nya.

Berat memang! Sangat berat. Semantara pamanku, kini, juga sudah sibuk sendiri mengurusi pendidikan Boni dan Bino, anak kembarnya yang tahun ini menginjak bangku kuliah.

Setiap hari ibuku bedul sendirian, lalu mengolahnya menjadi tape dan mengecerkannya di pasar Banyumas. Sekilas, aku teringat kejayaan ibu bersama bapakku sempat Berjaya ketika dagangan di jual di pasar Kroya. Di sana lebih ramai, produksi tape kami pun lebih diperbanyak. Tapi setelah bapak meniggal bersamaan waktu aku kuliah di Semarang, semua memaksa berubah. Untuk menyambung hidup dia tetap berdagang.

Emang semua itu cukup, Mas?” gumam gadis itu. “Jangan salah! Orang desa, khusunya orang seperti ibuku pinter-pinter. Dia pintar sekali menyelipkan uang di benting dan kutang bunder sampai jumlahnya bertumpuk. Ibuku juga punya tabungan berupa sapi dan kambing, almarhum bapak yang dulu susah payah membeli. Kau jangan tanya apa ibu mampu memberi makan hewan ternak kami itu. Dia masih punya paman yang tidak bisa membeli sapi, lalu sapi kami diparo-nya. Kalau kambing, masih bisa ibu memberinya makan, sebab setiap kali bedul, ada godhong boled yang bisa dimanfaatkan untuk pakan. Kalau ibuku tidak punya piaraan kambing, sayang juga kan? Godhong boled itu pasti dimintai orang yang memelihara kambing. Sayang kan!” jelasku panjang lebar.

Dan dia masih semangat manggut-manggut dan berhenti cekikikan, apa lagi berolok yang tidak-tidak.

Tak terasa adzan Ashar menggeming. Sudah sejam aku beristirahat, menjeda. lalu, aku buru-buru wudlu dan bersemangat jamaah. Gadis itu menghilang ke angkot warna orange di depan masjid. Bayangan ibu menanti berjamaah mengiang di kepalaku.

(Temanggung, 16 Desember 2007)

keterangan:

bedul: mengambil singkong dari pohonnya

benting: semacam selendang

diparo: sistem bagi hasil

tape: jenis makanan dari singkong

godhong boled: daun singkong

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: