Kenangan Celana Dalam

Aku malu sekali mendapati celana dalamku yang sudah kondor, berbintikbintik hitam dan berserabut mawut, dia bolak-balikkan beberapa kali dalam sehari. Seminggu ini. Bahkan setahun ini.

Ya! Celana dalamku memang sudah tidak layak pakai dan tidak aku ganti-ganti dengan yang baru. Ada sekitar selusin celana dalam yang seperti itu. Aku tidak ingin membuangnya. Sama dengan rasa ini kehilangan Mudin. Sama (juga) (sebenarnya) beratnya kehilangan Jukri, suamiku yang mungkin kini sudah jadi gelandang atau gembel.

Hujan belum akan turun, sebenarnya. Dia buru-buru naik ke lantai atas kemudian mengangkati semua jemuran. Tanpa sepengetahuan dia aku membuntuti dari belakang. Tanpa malu yang seperti kuderita dia juga mengangkat celana dalamku. Sama sekali tidak malu. Bahkan dia sambil bersiul-siul. Aku jadi malu sendiri lalu memilih menelungkupkan badan menyandar ke pintu.

Tiba-tiba panas kembali ke jemuran di rumahku. Tanpa putus asa dan seperti sabar sekali, dia kembali menggelar pakaian-pakaianku juga celana dalamku. Saat celana dalamku mendapat giliran itulah hatiku merasa deg! Lalu terlintas sepertanyaan di hatiku: “apakah kau juga mau memegangi kemaluanku tanpa sungkan, seperti yang kau lakukan pada celana dalamku? Seperti yang dia lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Seperti yang mereka lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Ah, dia masih terlalu mahasiswa. Dia belum tahu apa-apa ditahun pertamanya kuliah.” Gumamku. Aku menggigit jariku karena teringat hal yang sama persis pernah terjadi lima tahun silam. Bedanya begini:

“Sedang apa kau Din?” tanyaku buru-buru melihat Mudin sedang menggosok-gosokkan celana dalamku ke penisnya yang masih terbungkus celana dalam. Eh-ah-eh-em Mudin tidak bisa menjawab pertanyaanku yang sebenarnya tidak perlu berpikir untuk menjawab. Aku memilih menghampirinya yang sedang memainkan celana dalam.

Dengan isyarat mata satu saja, Mudin lalu mengekoriku seperti kucing kelaparan. Langkahku genap sampai ranjang, jarum jam pada jam dindingku menunjuk angka delapan, jarum lain memlih angka dua belas. Ya! Jam delapan tepat. Suamiku baru saja ngantor. Dan ranjang ini juga baru saja kubersihkan.

“Ayo Din? Naiklah ke ranjangku?” pintaku pada pemuda bersih dan berotot yang baru sebulan tinggal di rumahku. Dia kuliah di sebuah PTS yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Setelah ku gali lengkap identitasnya, ternyata dia anak dari desa kecil. Lantas aja saat pertama ke sini terlihat dekil dan tidak terawat. Tapi, kini tubuhnya semakin atletis dan menggoda. Apa lagi kalau dia telanjang dada. Fiiuh! Sekilas, aku lantas melupakan nasib suamiku yang juga melupakan nasibku. Aku sering mengintipinya mandi. Aku sering mengintipinya tidur, ganti baju, dan …ternyata dia melakukan hal yang sama denganku.

“Ayolah! Tunggu apa lagi” pintaku tak sabar. “Bukankah Tante sudah membersihkan ranjang ini? Aku takut mengotorinya lagi, Tan?” katanya sambil masih memegangi celana dalamku dan kemaluannya sendiri. “Kau jangan takut, nanti Tante akan bersishinnya lagi. Sini!” aku mengulurkan kedua tanganku yang sepertinya siap menerima badannya jatuh di dadaku. Brukk! Dia menindihku. Aku mengusap punggunggnya yang memanas. Dia membalas mencakar-cakar dada dan pahaku sampai aku berjerit. Dia malah tidak memperdulikan teriakanku. Sampai akhirnya aku mengaku kalah dan mengaku kehebatannya lebih dari Jukri, suamiku. Dia menepuk-nepuk dada sampai ratusan kali. “Ya, kau memang hebat, Mudin” pujiku. Dia tersenyum, sama seperti senyum suamiku waktu muda dulu. Tapi, mudanya suamiku saja masih kalah sama Mudin. Sebab mudanya suamiku umur 40 tahun. Lima belas tahun di atasku. Ya! Saat diumur keempat puluh tahunnya, aku merasakan persenggamaan pertama dengannya.

Awalnya, Jukri adalah pengusaha di pasar kecil. Dia punya kios yang menyediakan sembako. Tahun pertahun usahanya berkembang pesat hingga akhirnya dia memilih beralih menjadi pengusaha penyalur air di desa kami, karena dia melihat peluang itu. Dia memang tak pernah membaca buku T.Robert Kiyosaki yang selalu menekankan kebebasan finansial. Namun, dia menemukan sendiri teori itu. Dengan susah payah dia memutar otak dan berhasil mendirikan perusahaan pendistribusian air. Saat musim kering usahanya itu sangat maju, saat musim hujan perusahaannya mampu menggantikan PDAM yang belum menjangkau pelosok desanya.

Dia benar-benar menjadi orang kaya saat itu. Semua orang sangat tidak menyangka, terlebih keluargaku. Saat itulah, inisiatif Bapak mengajakku ke sini. Aku ‘dianjurkan’ menikah dengan Jukri. Jukri yang statusnya sebagai lelaki tak mungkin mampu menolak keinginan Bapakku mengawinkan dengan perawan desa cantik sepertiku.

Kenyataan yang menimbulkan semua teman kuliah semester pertamaku selalu bertanya: “Kau sungguh-sungguh mau menikah? Dengan kakek-kakek yang kau ceritakan itu? Apa nggak sayang badanmu yang sudah mulai kau make up jadi wajah kota itu? Banyak lho yang mau sama gadis cantik sepertimu. Apa lagi kau dari desa” komentar Wiwin, teman kuliah yang pertama kenalan denganku dan akhirnya satu kos saat itu. “Maksudmu? Bukannya gadis kota lebih baik? Lebih seksi dan lebih modis?” sangkalku. “Belum tentu! Dan justru itu perempuan kota jadi tidak berharga di mata lelaki. Saking genjarnya budaya western, kini perempuan dipasung sebagai barang hiasan. Inferior. Akibatnya, banyak klab-klab menyediakan free for ladies, sehingga tamu yang muncul kebanyakan perempuan yang berikutnya mengundang si hidung belang, lelaki. Setelah itulah perempuan diperjualbelikan. Dan perempuan-perempuan sepakat dengan harga yang ditawarkan dan imbas yang dia terima. Waduh!” Wiwin menepuk jidat saat itu. Aku merenung. Mahalnya keperawanan bagi orang sepertiku, tapi alangkah tidak berharganya bagi sebagian besar perempuan Jakarta.

Peristiwa memalukan itu benar-benar terjadi. Perusahaan penyalur air sehat yang dikelola Jukri, suamiku dituduh penyebab utama keracunan masal di desa Suro. Untunglah aku punya teman dari LSM perberdayaan Masyarakat yang menguatkan alibi bahwa perusahaan suamiku tidak bersalah, tapi ada oknum yang sengaja memasukan bubuk racun serangga ke setiap 5000 liter air yang kami beli dari Perusahaan Mata Air Pegunungan Pancasan.

Hingga aku akhirnya dikucilkan dan diasingkan dari desa oleh warga –sebab mereka kadung murka atas musibah yang ditimbulkan oleh air dalam tangki –, kasus itu belum selesai diusut. Yang setelah aku analisis ternyata itu permainan Kades Ripto yang ingin membangun perusahaan yang sama dengan kami. Karena dia mengenal orang-orang Polsek, dia mudah sekali menutup kasus itu. Karena kalau dilanjutkan dengan hukum yang benar, aku yakin kepolisian Indonesia akan menangkap orang-orang seperti dia, yang senang bermain-main dengan api. Sementara itu, aku bukan kerabat polisi apa lagi hakim.

Aku kapok hidup di desa. Yang aku kira tidak ada budaya main mata, ternyata sudah ikut-ikutan metropolitan yang sudah mengental lama.

Aku dan suamiku, Jukri. Dengan sisa tabungan dan posisiku sebagai seorang Manajer muda di perusahaan konveksi kami bertekad hidup di Jakarta. Jukri yang aku tahu, punya banyak ide-ide gila dalam memainkan uang, mati kutu sampai di Jakarta. Dia keburu ngeri melihat investor-investor asing bermain dolar dan perbankan. Sementara yang dia tahu rupiah dan dompet. Teori kebebasan finansial yang sepertinya dia ciptakan di desa, tak mampu dia terapkan melihat kini perusahaan menggunakan bermacam metode. “Aku bingung hidup di Jakarta. Aku sama sekali buta istilah mereka: MLM, Outsourching, Frenchise, money laundering, inflasi. Akh! Aku kan hanya tamatan SD. Yang aku tahu angka yang tertera di tubuh uang, bukan apa saja yang terkandung dalam uang” kata suamiku andai dia mengerti bahasa perekonomian.

Sebagai seorang Sarjana, aku iba melihat ketimpangan di keluarga kami. Aku ingin mengkursuskan dia pada sebauah lembaga pendidikan, namun dia buru-buru menolak dan mengolok-olokku dengan: “Anjing!”, “Bajingan!”, “Aku orang bodoh!”, “Dimana harga sebagai lelaki”. Sederetan pertanyaan yang menyebabkan ingin sekali ku bertanya kembali apakah genital itu perlu dipermasalahkan? Hingga, kini banyak bermunculan kaum feminis sebagai pendobrak kepatriarkhian?

Beberapa bulan kemudian, aku –atas ijin mas Jukri –membeli rumah kecil di Taman Kota. Agak lega juga bisa keluar dari kontrakkan yang pengap. Setiap hari aku banting tulang mencari uang. Dan bebanku semakin bertambah dengan kehadiran Meyka, anak pertama kami lahir. Aku selalu ingin membentak suamiku agar lekas mencari pekerjaan, saat itu juga aku tersadar dia tak makan bangku kuliah. Aku memakluminya.

Sampai suatu hari Pak Burhan, Direktur perusahaan kami iba melihat suamiku yang terus menganggur. “Bagaiman kalau suamimu kerja saja di sini. Tapi, kita tempatkan di kantor cabang biar dia tidak terlalu iri melihat posisimu di perusahaan”.

“Bagaimana kerjaanmu, Mas?” sapaku sepulang ngantor. Jukri ditempatkan sebagai pengawas gudang di kantor cabang Indotex. “Biasa,” dengusnya. Pertanyaan itu sampai melarut dalam hitungan bulan. Dia sekarang acuh. Tidak bersemangat melihatku. Seolah aku ini sesuatu yang tak pantas dilihat.

“Besok aku ke Lampung, Mas. Pak Burhan menugasiku mengamati kantor baru di sana” kataku memberi tahu sekaligus meminta ijin. Dia tak berkomentar lebih selain anggukannya yang berat.

Keberangkatanku ke Lampung ditunda karena pesawat yang kami pesan mengalami kerusakan. Entahlah, Pak Burhan tidak memesankan tiket pesawat lagi untukku sehingga aku terpaksa kembali ke rumah.

Tak ada berita yang lebih menyakitkan selain melihat suami sendiri bergoyang-goyang dengan perempuan lain diranjangku. Aku menangis, tapi itu sia karena dia memilih berhenti mencintaiku. Aku memberati Meyka, dan aku pun membiarkan suamiku bergoyang di ranjang dengan perempuan lain sampai beberapa lama.

Meyka, anakku mulai masuk TK. Sudah hampir lima tahun aku tak disentuh Lelaki. Kalaupun Jukri suatu malam memintakan tubuhku, itupun atas dasar nafsu belaka. Seperti yang terjadi pagi ini juga:

“Kau memang hebat, Mudin?” pujaku sekali lagi pada pemuda kos yang baru sebulan tinggal. “Kau setuju kalau aku menyingkirkan Jukri dari sini?” tanyaku meminta saran. Dan dia mengiyakan tapi piciknya dia tidak mau menjadi suamiku. alasannya macam-macam: masih mahasiswalah, umurlah, belum restu orang tualah. Diapun hanya merenggut tubuhku.

Sampai akhirnya, Jukri benar-benar aku usir. Karena memang ini rumahku. Aku yang membeli. Rasa sakitku sedikit terbalas meski berarti aku tidak memberati Meyka lagi. Dan statusku serumah dengan Mudin, entah mau dinamai apa.

Mudin telah disarjana, kini datang lagi pemuda kos di sini. Dia lebih ganteng dari laki-laki yang aku kenal sebelumnya.

Tiba-tiba hujan kembali menyerbu jemuranku. Tanpa putus asa dan seperti sabar sekali, dia kembali mengangkati pakaian-pakaianku juga celana dalamku. Saat celana dalamku mendapat giliran itulah hatiku merasa deg! Lalu terlintas sepertanyaan di hatiku: “apakah kau juga mau memegangi kemaluanku tanpa sungkan, seperti yang kau lakukan pada celana dalamku? Seperti yang dia lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Seperti yang mereka lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Ah, dia masih terlalu mahasiswa. Dia belum tahu apa-apa ditahun pertamanya kuliah.” Gumamku. Aku menggigit jariku karena teringat hal yang sama persis pernah terjadi lima tahun silam.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: