perempuan penyelamat hutan

Perempuan Penyelamat Hutan

(Cerita dari India tentang Amrita Devi; penyelamat hutan)

 

Dahulu kala, di kampung Kaghadali, kerajaan Dahlan pernah terjadi pertempuran darah. Mereka adalah prajurit penebang pohon dengan penduduk yang tinggal dekat hutan tempat pohon ditebangi.

Kejadian itu bermula dari kisah berikut: suatu hari Amrita Devi yang melihat parajurit penebang pohon merasa prihatin dan ingin kegiatan itu dihentikan.

Anehnya, baru kali itu dirasakan Amrita Devi hutan di sekitarnya perlahan habis. Dan dia baru menyadarinya, kalau dia sangat sedih melihat itu semua.

Dengan keberanian yang ada, Amrita Devi mendekati prajurit penebang pohon yang jumlahnya ratusan.

“Hai! Hentikan kegiatanmu!” serua Amrita Devi dengan berkacak pinggang. Matanya dilotot-lototkan tanda kemarahannya. Prajurit yang sedang menebangi pohon menghentikan kerjaannya sejenak.

“Siapa kau? Berani-beraninya melawan titah raja!!” kata seorang prajurit yang ternyata adalah pemimpinnya.

“Aku Amrita Devi. Aku tak perduli itu titah raja atau bukan. Aku hanya ingin penebangan pohon-pohon ini dihentikan! Udara di sini semakin panas gara-gara pohon terus ditebangi.”

“Lalu kau apa kalau kami tak mau menghentikan penebangan pohon ini. Hahahaha” kata pemimpin prajurit sambil terbahak-bahak.

“Pokoknya aku akan melawan kalian. Ciattttttttt!” Amrita Dei berlari ke arah Pemimpin dengan mengepalkan tangan siap memukul. Namun, dengan mudahnya Pemimpin menangkis pukulan itu. Prajurit lain menertawakan.

“Ikat dia dan gantungkan di pohon!” perintah Pemimpin, dan dengan sigap tiga prajurit mengikat dan menggantungkan Amrita Devi di pohon besar.

“Aku tidak akan menyerah! Kalian rasakan saja nanti akibatnya!” teriak-teriak Amrita Devi yang sudah menggantung di pohon.

Malam tiba, Amrita Devi dibiarkan tetap di pohon besar itu. Dalam hati, dia tak hentinya berdoa agar ada orang yang lewat dan membebaskannya. Kemudian dia juga akan mengajak penduduk kampungnya agar mau ikut melawan penebang pohon itu.

Namun, sampai pagi belum ada seorangpun yang lewat di situ begitupun para prajurit penebang pohon, mereka menebang pohon setiap seminggu sekali. Amrita Devi bingung, tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa menangis dan sesekali berteriak; “tolong….!”

Sampai satu minggu, tak ada seorangpun yang melintas ke hutan. Amrita Devipun meninggal tergantung di pohon.

“Hahahaha…. dia sudah mati.” Seru keras pemimpin prajurit penebang pohon begitu kembali ke hutan. Lalu mereka kembali menebangi pohon dan membiarkan mayat Amrita Devi bergantungan di pohon.

Tiba-tiba datang serombngan penduduk Kaghadi mencari Amrita Devi. Mereka mengira, prajurit inilah yang menculik Amrita Devi, gadis tercantik di Kaghadi.

“Maksud kalian perempuan itu?” pemimpin menunjuk pohon dimana tergantung Amrita Devi yang sudah tak bernyawa.

Melihat itu, penduduk Kaghadi sangat geram. “Ayo… kita serang prajurit-prajurit tak bermanusiawi itu!” seru salah seorang penduduk bersemangat.

Jumlah penduduk Kaghadi kalah banyak dari prajurit penebang pohon. Sehingga, dengan mudah penduduk berhasil dikalahkan. Sebagian penduduk telah terbunuh dan sebagian lagi memilih kabur menyelamatkan diri.

Seminggunya lagi, penduduk Kaghadi telah siap dengan pasukan yang lebih banyak. Bahkan mendatangkan dari kampung tetangga.

“Ayo… serang mereka!!!” salah seorang penduduk mengkomando penduduk dengan semangat berapi-api. Peperangan hebat kembali terjadi. Prajurit kini jumlahnya kalah dibanding jumlah penduduk. Dengan mudah prajurit itu diusir dari hutan. “Kami akan kembali!” seru pemimpin meninggalkan penduduk.

Prajurot yang selamat kembali ke istana dan menceritakan kepada raja Jotho. Dan betapa kagetnya sang raja mendengar berita menyedihkan itu. Padahal, dia tidak pernah merasa menitah prajurit untuk menebangi semua hutan. Beliau hanya butuh beberapa kayu untuk membuat sebuah kapal.

Setelah raja berpikir-pikir, ternyata itu adalah ulah pemimpin prajurit penebang pohon yang menebang pohon semaunya sendiri untuk dijual ke Negeri tetangga. “Iya baginda. Saya yakin, dalang semua ini adalah pemimpin prajuritnya” jelas penasehat kerajaan yang diamini oleh raja.

Rajapun meninjau langsung hutan itu dan meminta maaf kepada penduduk Kaghadali dan sekitarnya. Penduduk yang masih bersedih karana kehialangan sebagian sanak-saudauara dan juga putri terbaik Amrita Devi, dapat menerima penjelasan raja yang memang dikenal sangat bijaksana.

Amrita Devi tersenyum melihat itu dari Surga. Sejak itu juga, di India setiap ada orang yang menebang pohon semaunya sendiri akan dilawan oleh semua orang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: