Resep untuk para penulis (pemula maupun tingkat lanjut)

Malam. Aku lewati tanpa memejamkan mata sedetikpun. Aku habiskan untuk memantengi layar monitor. Aku online ke sana-sini mencari apa saja. Salah satunya artikel (saya gunakan untuk bahan menulis) dan juga lomba or sayembara. Hm, beginilah kalau sok-sok’an jadi penulis…

Adzan Subuh, baru mengingatkan aku untuk segera memejamkan mata. Dan… yah, malampun berlalu tanpa kepuasan alam mimpi.

Pukul sepuluh tepat, hape-ku menjerit. Awalnya hanya angin lalu sebab mata ini masih ingin berlama-lama memejam. Tapi… suara itu, yah! Suara itu berkali-kali menjerit. Sampai kuping ini bengkak, kalau boleh saya katakan. “Ku tak bisa jauh. Jauh…. Darimu. Kutak bisa..” yah! Tepat banget! Itu liriknya SLANK, band kesayangan sekaligus inspitor buat saya maju. Huh! Ternyata teman kampus saya yang berkali-kali miskol. Oh my God! Aku ada kuliah! But setelah dipikir akhirnya memilih “nggak” aja pada kuliah.

Dari kasur usang yang hanya tergeletak di keramik putih aku mencoba meraih air putih. Glek! Lima tegukan sukses mengalir ke tenggorokan. Sebuah buku yang semalam, sebelum aku ke warnet sudah saya wiwiti tapi baru halaman pengantar sebab senyap menggiringku menuju warnet, segera. Lalu, aku mulai membuka halaman per halaman buku itu lagi. “Creatif Writing” judul buku ini. Penulisnya adalah penulis juga pengajar di Jakarta School, sebuah sekolah tempat belajar menulis. Awalnya saya tidak begitu suka buku macam “ginian” karena menurut saya buku-buku macam ini sifatnya subjektif bukan normatif apa lagi objektif. Karena gaya menulis dan perasaan/ keadaan seseorang saat menulis sudah pasti berbeda-beda. Jah! Nggak ada yang membatasi kamu mau menulis apa, dengan gaya apa dan seberapa. Free aja kok!

Sedikit saja dari halaman pertama buku itu langsung saya amini. “Rahasia kreativitas: Mendekatkan tangan dengan otak” hm, benar juga. Otak adalah si penghasil segala ide, but tanpa adanya tindak lanjut semua ide masih terkungkung sebagai sebuah konsep asbstrak. Kalian tentu sering mendengar: “Saya sudah bisa membayangkan dan sedikit merangkai-rangkai bahkan sudah saya urutkan dengan apik. Tapi… saya kesulitan: mengawali, mengalurkan, menuliskan ke dalam kertas, mesin ketik dan komputer” bah! Sama aja Neng! Kalau dalam dunia pengarang mah kamu cuma dikatain omdo alias omong doank! Gemana tuh???

Salah satu langkah biar tidak selalu kesulitan menuliskan konsep dan segala ide itu ya dengan langkah awal seperti yang sudah saya sebutkan tadi: mendekatkan tangan dengan otak. Dari pengalaman pribadi, ternyata cerpen saya kian hari kian membaik dari segi kualitas. Saya merasa ada “penemuan-penemuan” yang tidak terduga setelah menulis beberapa kali. Yah! Kebiasaan. Sekali lagi kebiasaan.

Menulislah meski profesimu bukan penulis. Albert Enstein, Tokoh yang dikenal sepanjang abad-20 tidak pernah dikenal sebagai penulis tapi ia telah menulis lebih dari 2.000 makalah. Fiuh! Belum kebayang neh! Ketika anda menulis, otak akan merekam dengan baik setiap gagasan anda, dengan demikian anda tak mudah sesat dan kehilangan ilham. Menekuni bidang apapun, anda perlu menulis agar otak anda makin terasah (A.S Laksana 03:2006)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: