cintanomate

Cintanomate

Kenken masih melongo. Mata dan bibirnya mengisyaratkan belum mau percaya Yuke ditembak tujuh cowok dalam satu minggu ini. “Wah… lo hebat banget Ke?” sementara Ferla tergumam-gumam. “Trus? Lo mau selingkuh sama yang mana? Apa ketujuh-tujuhnya?” tanya Kenken asal. “Mmm… yang mana ya?” Yuke mengetuk-ngetuk kepala sambil mendongak ke atas. Kedua sahabatnya menanti-nanti kalimat Yuke berikutnya hingga bel masuk terpaksa mengakhiri topik pagi ini. Semuanya kembali ke buku Kimia dengan rumus etil dan dimetilnya. Semuanya mendendang: “Tangan ke atas, tangan ke samping, tangan ke depan, duduk yang rajin”. Semua mata harus memperhatikan baik-baik penjelasan Bu Krido, sebab kalo nggak bisa berabe! Spidol, penghapus bahkan sepatu sang Guru berambut keriting itu bisa melayang-layang. Zeremmm…mm. Semua siswa pun menuju pelajaran Kimia dengan dag.dig.dug!

Bel panjang berhasil mengusir Bu Krido. Semua siswa bernafas kembali. Kenken sampai asmanya nyaris kumat gara-gara menahan diri nggak bicara terus. Si Rono lebih parah lagi, setelah Bu Krido say goodbye dia mengaku buang gas sampai sepuluhan kali. “Hoo.. dasar jorok!” Kenken mengolok-olok, sebagian besar yang lain menertawai. Ya begitulah tabiat Rono di SMA Farida: konyol! Sementara Yuke nggak menggubris kelakuan temen-temen sekelas, dia memlilih lekas-lekas ke kantin untuk menyantap bakso kesukaan. “Ne’ tunggu Ne’!” jerit Kenken melihat temen sebangku dan seperjuanganya sudah menghilang begitu saja tanpa konfirmasi. Ferla seperti anak teka mengerengek manja: “Hhhh… tungguin gue!” langkahnya kemudian lebih mirip anak kecil bermain lompat tali.

“Hah? Yuk.. Yuke?” belum genap kaki Kenken menginjak lantai kantin, dia kembali melongo mendapati Yuke sedang ngobrol sama seorang cowok. Lima detik kemudian, terdengar suara sepatu Ferla ‘mengerjit’. Ci..iiittttttttttt! mirip mobil nyaris menabrak tukang becak, namun dengan tangkas sopir itu memainkan rem hingga angka kecelakaan tak jadi bertambah. “Hssssstttt!” Yuke mengkomando adik seperguruannya berhenti mirip si kera Go kong menjewer adik Pat Ke. Keduanya lalu lebih sering melongo sampai lalat-lalat ijo pada naksir dan masuk ke mulut mereka. Hii… Jijay!

“Aduuuh! Lo tu mau jadi pembunuh apa?” keluh Ferla kesal karena dari tadi nggak diperbolehkan masuk kantin sama Kenken. “J..jangan! entar kencan Yuke sama tuh cowok gagal! Dia pasti malu ketahuan sama kita. Nggak bakal mati nggak kalo nggak makan kali ini” Kenken mendesis. “Uuggghh… Baby gue nih belum breakfree.. kacian!” Ferla mbesungut. “Breakfast!!!” seru Kenken membetulkan. “Bodo!” Ferla memasuki kantin dan melewati meja yang diduduki Yuke.

“Aloooww, Yuk.Yuke…” Ferla sok barbie. “Hai…” giliran Kenken yang kelihatan banget salah tingkahnya. Yuke tersenyum kuda. Sementara cowok yang ternyata mengenakan nama “Aguzta Narifki” di dadanya hanya tersenyum sebisanya. Kemudian mirip di kafe-kafe dan diskotik, Ferla dan Kenken menuju bartender untuk memesan bakso plus es teh.

“Hoi… Kalian duduk di sini aja!” panggil Yuke. “Ya, udah gue duluan aja yah? Harus nempelin-nempelin pamflet juga nih! ” cowok yang masih pake nama Aguzta berpamitan. Yuke yang memang sudah paham kesibukkannya sebagai ketua majalah sekolah mengangguk mengiyakan. Ferla dan Kenken saling berpandangan, kemudian setelah Aguzta bener-bener lenyap mereka bergegas boyongan ke meja Yuke. Nafas mereka terengah seolah baru mengalami kejadian aneh. Yuke malah tersenyum-senyum melihat kedua sahabatnya kayak monyet ketembak.

“Gila ya, cowok sepopuler Aguzta nemplok juga ke lo!” Kenken kembali bergumam-gumam. “Iya. Resepnya apa sih Ke? Minum beras kencur sama kunyit asem tiap pagi ya?” ledek Ferla nggak meaning banget. “Gue juga nggak ngerti kenapa semua cowok keren pada nembak gue. Lagi hoki kali! hehehe” jawab Yuke meringis. “Trus? Si Nando gemana? Kalo nggak kepake buat gue ajah,” Kenken menyikut lengan Yuke. “Enak aja! Emangnya Nando baju apah! Nggak kepake-nggak kepake! Hooo…!” Yuke sedikit sewot. “Udah! Udah! Jangan pada bertengkar. Kita bertiga sudah lama sobatan. Nggak baek musuhun, apa lagi karena cowok!” kali ini Ferla jadi cewek sok dewasa. Yuke dan Kenken buru-buru mengolok-olok.

Tet.tettttttttttttttttttttttttt!!! kali ini bel pulang yang menjerit. Semua kembali bisa bernafas setelah di hajar milyaran rumus Trigonometri. Di atas kepala Ferla, tujuh bintang mengerling merah-kuning-ijo lengkap dengan aneka tanda baca dan huruf Romawi. “Hoi! Pulang Hoi!” Kenken menggebrak meja Ferla dengan pukulan mataharinya. Ferla terpental sampai dia berolok: “Iiih! Betein banget deh!” “Buruan pulang, entar jemputan elo complain lho! Tuh si Yuk…” Kenken menoleh ke mejanya, ternyata Yuke udah cabut lebih dulu. “Buruan akh! Yuke udah ilang tuh.” Kenken menyambar tangan Ferla, menyeretnya bak tawanan.

“Hah? Yuk.. Yuke?” bola mata Kenken sengaja dikeluarkan semua. Radius sepuluh meter tampaklah Yuke hendak masuk mobil Honda Jazz merah. Ferla yang udah bawaannya bloon mengikuti apa yang dilakukan Kenken. Mata mereka mengikuti gerak mobil itu menjauh sampai menghilang di tikungan depan. “Siapa lagi ya Fer?” “Iya yah Ken?” balas Ferla tanpa waktu tunggu, tapi malah diganjar jitakan kecil oleh Kenken: “Ditanya malah bales nanya! Bego lo ah.” “Kalo gue pinter entar kalian nggak njitakin pala gue lagi…” ujar Ferla lebih polos. Kenken kemudian mengingatkan kalo Pak Kimin sudah kelihatan mau complain dari tadi, Ferla pun menuju Avanza hitam yang sedari tadi nongkrong di depannya. Keduanya saling say goodbye

Besoknya

Kenken bersama si APV berhasil mendarat di depan gerbang sekolah persis. Jalanan ruwet kota Jakarta tak membuatnya lupa jalan menuju sekolah. Maklumlah! Diantar sama Pak Sopir. Kalo pun nggak diantar Pak Sopir dia juga nggak akan kesasar, kan diantar sama Boni, kakaknya, ato Henar, gebetan satu-satunya. Hep! Kaki kirinya mendarat dengan sempurna diikuti yang kanan nggak berapa lama setelahnya. ““Hah? Yuk.. Yuke?” kali ini bukan hanya bola mata Kenken saja yang dikeluarkan, kacamata minusnya pun dikeluarkan lalu dicantolkan ditelinga. Sekarang dia melihat lebih jelas, tapi malah dia melepas lagi kacamata itu, tangannya bersemangat mengucek hingga dia perlu obat tetes mata setelahnya sebab terjadi infeksi saat dia mengucek dengan intensitas dua ratus kali dalam satu menit.

“Eh, Kenken. Selamat pagi…” sapa Yuke berseri-seri. “Sss…selamat page Ke?” balas Kenken masih mengelap sisa airmata yang keluar perih. “Kemarin lo dijemput pake Honda Jazz sekarang dianter pake Toyota Harrier, besok apa lagi Ke? Hm, jangan-jangan Bokap lo tukang parkir ya? Eh, salah, salah!” Kenken buru-buru meralat. “Bokapmu kan manajer tuh, tapi… manajer sumber daya parkir! Hahaha” ejek Kenken dibubuhi tawanya. “Yee.. itu tadi Hesa, cowok yang lagi KKP (Kuliah Kerja Praktek) di perusahaan Bokap gue. Karena satu kantor sama Bokap, jadi sekalian aja deh dia tinggal di rumah gue..” jelas Yuke lengkap. Kenken manggut-manggut. “Eh, trus si Nando gemana donk? Buat gue aje ye!” tiba-tiba Kenken inget nama itu. Yuke sepertinya no comment aja ditanya gitu.

“Lo mau kemana Ke?” tanya Kenken melihat Yuke beranjak dari bangkunya, bel masuk kurang lima belas menit lagi. Kenken kemudian menggaruk-garuk tas Yuke. “Nah, ini dia!” ujarnya pada dirinya sendiri setelah menemukan buku bertuliskan “Tugas Matematika”. Mata Kenken yang masih berairmata dan merah akibat kucek-kucekan tadi kembali harus dikucek. “Gue sebel sama Nando! Nando egois… Nando nggak sayang sama Yuke! Gue bencii….” salah satu dari milyaran keluhan Yuke Kenken baca berulang-ulang. “O..” Kenken manggut-manggut sendiri setelah semilyar keluhan Yuke berhasil dia khatam’kan. Lima belas menit berikutnya Yuke telah kembali, persis di belakang Yuke adalah Pak John, Guru Bahasa Inggris terfavorit seantero SMA Farida. Kenken memasang wajah innocent­-nya seolah nggak terjadi apa-apa.

Natal

Rumah-rumah telah dihias dengan pohon Natal, lagu-lagu Natal nggak ketinggalan mengisi semua ruang-ruang rumah. Yuke tampak sibuk berdandan di depan cermin setinggi badannya. “Ke!… Yuke!!” panggil nyokapnya Yuke dari luar kamar. “Ya.. Mah,” jawab Yuke sambil melipat kedua bibir ke dalam. Lipstiknya sudah merata! “Ada yang nyariin,” “Iya Mah, bentar!” dia kembali mengelap lembut make-up di wajahnya. Blus putih transparan membalut kulitnya yang mulus. Kini, dia tampil perfect!

“Hah? Ken… Kenken?” kali ini mata Yuke yang dipaksa membelalak. Mata Yuke makin membelalak ketika mulutnya berucap: “Nan… Nando?” telunjukknya diarahkan pada dua makhluk di depannya. “Kenken? Nando?” akhirnya setelah menjalani beberapa kali latian, ujarannya pun lancar dan dia tersadar ini bukan mimpi. Bahwa yang berdiri di depannya benar-benar Nando, kekasihnya yang sedang kuliah di Jerman.

“Sory Ke? Karena Nando udah nggak kepake, maka mulai sekarang dia bakal jalan sama gue,” kata Kenken mengeluarkan semacam pengumuman sekaligus ancaman. Mata Yuke meleleh, sebabnya bukan seperti yang dialami Kenken: akibat dikucek, namun merasa nggak percaya Nando jadian sama temennya sendiri. “Nan..Nando? Gue sayang lo…” Yuke mewek. Bahunya seperti pohon ditebang. Mukanya menunduk.

“Terus napa donk lo hunting cowok sampe sepuluh lusin?” Kenken sok galak. “Yuke… Yuke.. sebel! Abisnya sekarang Nando sibuk sama pekerjaannya sendiri. Jarang sms, telfon, kirim email, apa lagi kirim wesel,” Yuke semakin menjadi meweknya. “Ma..makanya gue…gue… Yuke cari-cari cowok sebagai hiburan. Tapi… setiap malem gue berharap Nando telfon… tapi nyatanya…” Yuke semakin histeris menangis, tangannya tak henti-henti memilin-milin blusnya yang sudah disetrika lima belas kali. Nando menghampiri, Yuke dag.dig.dug.

“Maafin Nando yah, gue tahu ini semua salah gue,.” Tiba-tiba Nando menubruk tubuh Yuke, memeluknya erat. “Tapi, lo pulang bukan alasan Natal kan? Karena pengen ketemu gue kan?” Yuke beraksi memamerkan kebolehannya berakting manja. “Gue pulang karena… mmm..” Nando makin membuat Yuke makin lama menahan nafas. “Karena apa,” tanya Yuke nggak sabar. “Karena….. di telfon Kenken.” Brak!!!!!!! Yuke memilih pingsan di pelukan Nando. Kenken berteriak histeris melihat temen baiknya shok mendengar pengakuan Nando.

“Aduu…uuhh, lo bego banget sih Do! Napa juga lo ngomong pulang karena ditelfon gue?” sesal Kenken menyalahkan Nando. “Ya… emang gitu kenyataannya,” balas Nando tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Iiiih…! Pasti Yuke nyangka Kita bener-bener jadian tau!” Kenken semakin sewot. “Yang nyuruh kita ngaku jadian syapa?” Nando nggak mau disalahkan.

“Teretetttttttttt….. ketipu semua! Hwahwahwahwahwa….” Yuke tiba-tiba bangun dari pingsannya kemudian berlari kecil ke dalam setelah berhasil mencium Nando dan berucap: “IloveU”. Kenken dan Nando berpandangan.

Catatan:

Cintanomate: cinta no mate, yang artinya kurang lebih “cinta yang tidak terbagikan/ tergantikan”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: