Cerpen di Radar Banten: Saat Terhenti

Saat Terhenti

Oleh Suyatna Pamungka

Ternyata aku masih di sini. Di bumi kita. Padahal aku begitu cemas saat itu. Aku mencari-cari ke setiap belahan bumi ini. Namun, tak pernah aku temukan mereka. Perasaan ini sedikit lega karena masih bisa menjamah perkampunganku. Tapi di mana orang-orang itu? Ayah, Ibu, Adik dan Bibi-bibiku? aku tak bisa melihat mereka atau kesemuanya juga telah mati?. Tidak! aku masih ingat betul orang-orang itu masih hidup. Lalu kenapa aku masih dibiarkan sendiri. Kemanakah orang-orang mati yang lain?. Aku tak menemukannya satupun. Aku bukan tiba di alam kubur atau alam barzah seperti yang diceritakan ustadzku. Ternyata Aku masih tetap disini, di bumi kita. Tapi kenapa begitu sepi, tanpa teriakan-teriakan mereka.

Udara di sini masih seperti dulu ketika aku masih hidup. Pohon-pohon mangga masih diperbolehkan tumbuh. Rumahkupun masih kokoh berdiri, masih lengkap dengan tetangga-tetangga yang itu-itu saja, sama sekali tidak berubah. Aku hanya menunggui di depan. Di jalan setapak yang menghubungkan rumahku dengan rumah-rumah orang di sini. Inisiatif masuk ke rumah (Seenggaknya mencari penghuni rumah) tidak muncul sama sekali dalam benakku. Tapi aku ingat mereka masih hidup dan akulah yang telah mati. Entah kapan kematianku itu terjadi, tahu-tahu aku sudah berada disini dengan suasana-suasana kematian di pundakku. Tentunya Allah tidak pernah berbohong kalau aku telah meninggalkan mereka terlebih dahulu.

Dengan beberapa kesabaran aku menunggui orang-orang yang belum mati Akhirnya aku menemukan suatu waktu, entah mereka menamai waktu apa itu. Rumahku masih kokoh, masih tersinar lamat matahari tapi aku tak bisa melihatnya langsung, mungkin bersembunyi di alam kehidupan? Karena disini sudah menjadi kematian? Entah! Tapi mereka benar-benar muncul untukku, untuk aku tanyai, untuk aku katai: “aku tak ingin mati”.

Aku masuk ke rumah itu, mungkin masih rumah orangtuaku. Tak lagi ada suara-suara ayam berebut makan di sekitar sini. Biasanya jam-jam segini Ibu mengurung ayamnya sebelum diberi makan adonan bekatul. Kemana ayam-ayam itu? Apa mereka juga telah mati sepertiku?.

Langkahku telah genap memasuki teras. Untunglah orang-orang itu sedang berkumpul juga disini: Bibi, Marni saudara sepupuku, Akhwan ketua pemuda kampung, sepertinya masih banyak lagi yang di dalam. Tapi aku tak ingin masuk dulu, aku ingin disini saja. Di teras bersama Bibi. Heran juga kenapa ada begitu banyak orang di rumahku?. Sedang apa mereka?. Apakah merayakan kematianku?.

Aku menyalami Bibi, Marni, Akhwan satu persatu. Marni menatapiku seperti penuh kelegaan. “Sudah balik kamu?” Bibi tidak memanggilku Toni, atau Ony lagi. Bibi memanggilku “kamu”. Lalu apa maksudnya?. Apa aku ini hantu?. Mungkin!. Aku duduk menyebelahi Marni, dia juga tidak takut, sepertinya. “Dia sudah mati” lalu Bibi memberi sedikit bahasa yang dibubuhi isyarat tersendiri. “Ooh” bibir Marni seperti hendak mengucap vokal bulat itu, tapi tertelan lagi. Mereka tidak mengajakku berbicara. Mereka berubah. “Aku tak melihat Ibu, kemana dia?” belum sempat Bibi menjawab, tiba-tiba Ibu muncul dari ruang itu. Ruang yang biasa aku gunain buat menonton TV bersama mereka. Kini entah menjadi apa. Sepertinya di dalam ruang itu masih banyak orang menggemakan bahasa yang tak bisa aku mengerti.

Ketakutan ini meluap begitu Ibu didepanku. Aku memeluknya erat-erat. Aku menangis di sana. “Bu? aku tak mau mati dulu” berulang-ulang kata itu aku ucapkan seperti memohon. “Tidak bisa, kamu harus terima. Besok kamu mulailah mengembara, tanpa ditemani orang-orangmu yang dulu. Ibu, Bibi, Adik semuanya tidak boleh ikut. Karena Allah menginginkan begitu”. “Jadi aku harus sendirian?. Aku takut Bu?, mungkin tidak akan kuat menjalaninya, tapi setidak kuat seperti apapun Aku tak akan mati lagi. Kesepian itu terlalu sepi Bu?” Ibu sepertinya hendak menanggapi dengan sesuatu di tenggoroknya yang ikut gondok. Ibu sepertinya ingin melepas kesepianku, tapi sepertinya tak berdaya.

“Kenapa Ibu diam ? tanyaku. Jawabannya hanya diam, dan tangisan mengisak dada. Aku melanjutkan memeluknya, seolah tak ingin dipisahkan oleh kematian itu. “Apa Ibu tega melihat Aku sendirian seperti ini?. Apa Ibu akan membiarkan tubuhku remuk dibogem Si Malik?. Sebab Aku masih merasa kecil, yang busuk dan terkutuk. Coba pikir Bu? apa mungkin dosa-dosa itu terampuni setelah ini, setelah duniaku beralih kematian ini. Aku cuma Mahasiswa, masih sehijau Mahasiswa dan dosa-dosa tidaklah masih seumur mahasiswa. Mungkin telah menjadi ratusan juta raksasa berlabel dosa-dosa. Banyak sekali Bu? sampai Aku ngeri menghitungnya. Hari ini aku baru bisa merinci dosa-dosa itu. Lalu menyadarinya dengan penyesalan yang kosong, pasti. Sebab Allah memberikan waktu begitu aku hidup. Dan hidup itu tidak mampu mengajariku menghitung dan merinci dosa-dosa. Aku tak pernah berpikir akan menyesali sampai sedalam ini. Andai saja tahu, sesal ini benar-benar (akan) ada, aku tak akan sudi mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh temanku, mungkin teman mereka juga, tapi Aku tak mau juga tak berteman. Bujukkannya terlalu manis Bu? Sampai diri ini tak pernah diberi kesempatan untuk mengatakan “tidak”, mulut ini seperti disumpah akan berkata “iya” terus.

Ibu terdiam, Aku juga ikut diam. Dia melepas pelukan, lalu mendudukkanku pada kursi tua. Ibu duduk menyebelah dariku. “Lihat itu!” sebatang telunjuk tangan kanan mengarahkan pandanganku ke jalan kecil depan rumah. “Siapa mereka Bu?” Aku keheranan karena belum pernah melihat mereka sebelum ini, juga belum pernah tahu ada yang seperti mereka. “Mereka mungkin teman-temanmu?” Ibu seolah bertanya tapi sedikit melakukan penekanan dengan intonasi itu. Aku semakin bingung kenapa Ibu mengatakan mereka adalah teman-temanku. “Siapa mereka?” Pandanganku suwung ke depan, nada perkataan sedikit Aku rendahkan, karena Aku takut.

Mereka orang-orang yang akan digiring Si Malik menuju kamarnya. “Lalu siapa mereka? dan kenapa?” Semakin besar ketakutan ini meminta perlindungan, inginku. “Ibu tidak tahu siapa-siapa mereka, karena Ibu benar-benar tidak pernah menjumpai orang-orang seperti mereka pada diri Ibu sendiri. Mereka makhluk di luarku. “Lalu siapa yang pernah Ibu jumpai pada diri Ibu sendiri?” penasaran terus memburuku. “Mudah-mudahan Ibu tidak salah mengenalnya lebih jauh, sehingga kesimpulan Ibu tentang mereka tidak sia-sia apalagi dipersalahkan. Tapi Ibu juga bukan makhluk yang sempurna, mungkin juga mereka yang barusan kau lihat juga bisa kau lihat pada diri Ibu. Setahuku sejauh umur ini menginjak angka 50, Ibu ingin selalu dikatai orang baik. Makanya Ibu mengenal orang yang baik dalam diri ini, orang yang patuh kepadaNYA, serta orang yang senang menolong seperti penolong, atau berjuta-juta orang dengan jubah yang dibubuhi kebaikan karena amalnya. Ya! Seperti itu kurang lebih mereka yang Ibu jumpai. Meskipun sekali lagi: Ibu juga bukan makhluk yang sempurna. Ibu sedikit terbatuk, mungkin dipanggil usianya. “Jadi orang-orang yang barusan lewat itu, di luar diri Ibu”. “Bukan hanya Ibu, semua orang. Seharusnya begitu” Ibu memantapkan dengan kalimat itu. “Termasuk Aku Bu?”. “ Tentu saja. Seharusnya begitu”. Aku malah semakin tidak berpihak pada ketenangan dengan sabda-sabda Ibu, hati ini semakin gundah, seperti merasakan sesuatu yang hebat akan terjadi pada diri ini. Aku juga tidak menyangka orang-orang yang barusan lewat ternyata banyak Aku lihat pada diriku. Apakah Aku harus membunuhinya satu-satu? Mungkin, tapi Aku juga bukan makhluk yang sempurna.

Aku tanpa pertanyaan, Ibu juga sepertinya sedang membuat pertanyaan, atau memikirkan pesan-pesan yang lebih hebat. Suasana masih seperti semula. Bibi, Marni, dan Akhwan serta orang-orang yang Aku lihat di dalam rumah seperti melakukan pekerjaan yang berulang. Belum selesai juga sampai saat ini.

Mata ini melihat lagi orang-orang berbaris banyak sekali, seperti tadi. Aku tidak mengatakannya atau menanyakannya kepada Ibu, karena mungkin dia juga sudah tahu. “Kamu juga tahu mereka?” kembali Ibu menunjuk mereka. “Aku sudah paham semua Bu?”. “Baguslah” Ibu seperti menyimpulkan Aku benar-benar sudah mengerti, padahal hati ini masih pada ketakutan yang tadi. Apakah karena Aku memang begini? Karena Aku sebagai manusia.

“Lalu untuk apa kamu masih duduk di sini?” Ibu seperti menginginkan Aku pergi. Tapi kemanakah harus pergi? Langkah ini sungguh tak tahu kemana, harus mengikuti orang-orang yang barusan lewatkah? Tapi apa Aku pantas? Atau mengikuti yang mengikuti sebelumnya? Tapi Aku takut.

Mata ini mengungkapkan tangisan, mungkin berupa penyesalan. “Aku takut Bu?” sedikit saja Aku memohon agar diberi nasehat-nasehat lagi. “Itu risikomu” Tidak mungkin, Ibu sampai mengataiku seperti itu. “Berarti Aku harus mengikuti orang-orang yang pertama lewat?” Bibir ini hanya menyisakan getir. “Orang-orang yang kamu jumpai di dalam dirimu akan mengajari ke mana seharusnya kamu melangkah. Sebab mereka tidak akan pernah membohongi siapa saja apalagi dirimu dan Allah. Mereka tahu dan menyadari siapa mereka. Mereka juga ikhlas hendak diapa-apakan, mereka patut kamu namai boneka, apa kamu telah merawat bonekamu dengan kebajikan-kebajikan?”. Aku tak menjawab, apalagi bertanya tentang sesuatu yang mungkin lebih menakutkan. Sebab Ibu hanya bisa begitu, tak sedikitpun mau membantuku andai malik menyuruhku masuk ke kamar api itu. Aku takut sekali.

“Tunggu apa lagi? Pergilah. Pertanggungjawabkan orang-orang yang kamu jumpai di dalam dirimu!” Ibu kembali mengusirku. Aku memasuki sebuah ruangan 3×4 meter, sepertinya kamarku dulu. Lalu aku tanggalkan pakaian yang sepertinya asing sekali ditubuhku. Apakah ini yang mereka namai kain kafan? Apakah berarti aku dipanggil mereka “pocong”? entahlah! aku tak mempedulikannya lagi. Aku hanya ingin mengenakan celana jeans yang biasa aku pakai waktu ngampus, biar sedikit nyaman. Sebab aku belum terbiasa memakai setelan kafan, dan aku takut mengingat aku belum beribadah, beramal, saling menolong, lalu hati ini menangis. Tapi untuk apa? sudah terlambat!

(Semarang, Desember 2006)

jamaah

Jamaah

Jeda. Setiap tindakan dan tingkah lakiu hendaknya mengenal kata ini. Jeda adalah obat ketika manusia sibuk meng-aktivitas.

Dan jeda yang baik bukanlah pada ruang-ruang ramai dengan aneka emosi di sana. Jeda yang baik adalah pada kesenyapan hati yang dibuat senyap.

Sementara perjalanan Semarang-Purwokerto yang memakan waktu lima sampai enam jam, aku –biasa –jeda di tengah. Setelah capek sekali berkejar-kejaran dengan aneka jenis kendaraaan dengan aneka emosi di sana, sdah saatnya aku mengistirahatjan (bukan badanku ternyata) jiwa-jiwa pengemosi.

Aku bertemu bertemu aneka manusia juga di masjid ini. Masjid yang letaknya di tengah kota Temanggung yang masih menggunakan tata kota itu-itu juga: sebelah timurnya sudah pasti alun-alun, timurnya lagi penjara, sebelah utara alun-alun pastilah kabupaten, dan sebelah selatannya kawedanan. Namun, meskipun asal dan bentuk muka mereka benar-benar berbeda denganku ternyata kami masih sesaudara, Islam.

Jam dinding menunjuk pukul 14:00. Shalat dhuhur berjamaah sudah lama lewat. Waktu aku masuk ke masjid –dengan membawa tas gendong agak besar –aku melihat mereka sudah shalat bersendiri-sendiri. Ya, meskipun ada yang membentuk kalangan yang sepertinya sudah usai salam.

Rasa itu entah timbul dari mana. Dari lima orang yang sudah mulai memulai shalat bersendiri-sendiri, aku bukan makmum salah satu dari mereka tapi malah bersendiri juga. Kini, enam orang termasuk aku, shalat bersendiri. “Huhh! Ngapain juga susah-susah makmum sama mereka! Aku juga bisa shalat bersendiri!”

Perkataan yang sungguh aku sesali sekali sebab ketika bilangan rakaatku samapai pada hitungan yang ketiga, seseorang menepuk ringan pundakku. Aku andaikan dia bersapa: “Saya ikut makmum, Mas!?” lalu aku melebarkan senyum tapi segara padam setelah sadar aku telah sok bersendiri, tadi.

Setelah salam, aku sempatkan menengok wajah dua makmumku tadi. Bapak-bapak? Seketika aku ingat ustadz Karim perihal Imam. “Yang dituakan, yang bacaan Qur’annya faseh, yang….” sekilas bayangan ustdz melintas.

Aku meninggalkan mereka setelah doa singkatku selesai. Lalu-lalang kendaraan mengitari jalan alun-alun yang dibuat searah memaksa mataku menikmatinya. Semiliran angin menerbang-nerbangkan ombak rambutku yang mulai memanjang.

Aku bersandar pada tiang di pojok. Sehingga aku bisa mengamati lalu-lalang dengan leluasa.

Datang lagi, serombongan jamaah. Mereka mengenakan seragam putih abu-abu. “Anak MTs!” tebakku. Mata ini tak sedetikpun luput mengamati dan memilah wajah yang termenarik. “Dasar mata keranjang!” cemooh entah hati yang mana.

Sepuluhan menit, rombongan itu selesai shalat, aku masih bersandar seperti tadi. Mereka berjumlah lima oran dan aku suka malu berhadapan dengan jumlah segitu. Sebaliknya, mereka dengan beraninya menggodaku. Kini aku jadi cewek dan mereka jadi segerombolan cowok penggoda, pikirku. “Sialan! anak SMA berani goda-goda Mahasiswa!” gumamku.

“Hai, Mas? Lagi perjalanan ya?” sapa salah seorang dari mereka setelah –mungkin –menarik simpulan dari jaket, tas besar, dan slayer yang terserak di sekelilingku. “Iya? Kalian sudah pulang?” balasku berbasa-basi. “Iya, Mas,” gadis itu mendekat, menyebelah. Sementara yang lainnya seperti dikode, mereka menjauh dan membentuk kalangan sendiri di pojokkan selatan.

“Wah, jauh banget ya Mas? Pasti capek!” komentarnya setelah aku bercerita perjalanan jauhku mengendarai sepeda motor. “Masa sebulan sekali sih, Mas? Apa nggak terlalu capek?” komentarnya lagi setelah kubercerita lebih banyak hal.

“Capek jelas! Bahkan di semester-semester awal aku terkena flek paru-paru gara-gara sering pulang. Tapi….” kata-kataku menjeda. entah sengaja atau tidak yang pasti ingin sekali kujeda. “Tapia apa, Mas?” bujuknya. Bah! Baru sedetik ketemu, berani-beraninya aku mengumbar mulut! Dasar cowok berbibir cewek!

“Biasalah…. home sick! Hahaha” aku mengajaknya tertawa. “Kangen pacar di kampung ya?” godanya. Aku menahan kelu yang berat di kerongkongan. Dan aku memilih jeda lagi, sampai akhirnya dia menyikut lenganku mengisyarat agar aku segera lanjut bercerita.

“Aku kangen sama Ibu. Selalu kangen!” sebuah kaliamt yang malah membuat gadis malah cekikikan lama sekali. Dia kembali bersuara: “Lha? Anak mami, to?” lagi-lagi aku dipaksa bisu.

“Aku kangen berjamaah sama ibu. Selalu kangen.” Kataku kemudian yang berhasil menyihirnya mematung.

“Sebenarnya untuk apa ibuku menyekolahkan aku jauh-jauh? Habis tak sedikit uang! Habis komunikasi! Habis jamaah yang (dulu) rutin setiap magrib, isya, dan subuh! Untuk apa semua itu? Misi yang dinamai uang! Ya, itu dia!” entah siapa yang mengajari tiba-tiba aku berkhotbah.

Ibuku belum terlalu tua. Tetapi akibat beban hidup yang seperti terus menindihnya, kini dia tampak cepat tua dengan ukiran kerut di mana-mana. Dan aku, (mungkin) anak yang paling tak tahu diri. Sudah keluarga miskin, bapak sudah meninggal, masih juga minta dikuliahkan!. Fuh! Semua gara-gara pamanku! “Nilaimu bagus, kau cerdas, masalah uang menyusul, nanti kita bicarakan bersama-sama! Yang penting kau masuk kuliah dulu!” ujar paman waktu itu yang berakibat ibuku harus tetap bahkan meningkatkan produksi tape-nya.

Berat memang! Sangat berat. Semantara pamanku, kini, juga sudah sibuk sendiri mengurusi pendidikan Boni dan Bino, anak kembarnya yang tahun ini menginjak bangku kuliah.

Setiap hari ibuku bedul sendirian, lalu mengolahnya menjadi tape dan mengecerkannya di pasar Banyumas. Sekilas, aku teringat kejayaan ibu bersama bapakku sempat Berjaya ketika dagangan di jual di pasar Kroya. Di sana lebih ramai, produksi tape kami pun lebih diperbanyak. Tapi setelah bapak meniggal bersamaan waktu aku kuliah di Semarang, semua memaksa berubah. Untuk menyambung hidup dia tetap berdagang.

Emang semua itu cukup, Mas?” gumam gadis itu. “Jangan salah! Orang desa, khusunya orang seperti ibuku pinter-pinter. Dia pintar sekali menyelipkan uang di benting dan kutang bunder sampai jumlahnya bertumpuk. Ibuku juga punya tabungan berupa sapi dan kambing, almarhum bapak yang dulu susah payah membeli. Kau jangan tanya apa ibu mampu memberi makan hewan ternak kami itu. Dia masih punya paman yang tidak bisa membeli sapi, lalu sapi kami diparo-nya. Kalau kambing, masih bisa ibu memberinya makan, sebab setiap kali bedul, ada godhong boled yang bisa dimanfaatkan untuk pakan. Kalau ibuku tidak punya piaraan kambing, sayang juga kan? Godhong boled itu pasti dimintai orang yang memelihara kambing. Sayang kan!” jelasku panjang lebar.

Dan dia masih semangat manggut-manggut dan berhenti cekikikan, apa lagi berolok yang tidak-tidak.

Tak terasa adzan Ashar menggeming. Sudah sejam aku beristirahat, menjeda. lalu, aku buru-buru wudlu dan bersemangat jamaah. Gadis itu menghilang ke angkot warna orange di depan masjid. Bayangan ibu menanti berjamaah mengiang di kepalaku.

(Temanggung, 16 Desember 2007)

keterangan:

bedul: mengambil singkong dari pohonnya

benting: semacam selendang

diparo: sistem bagi hasil

tape: jenis makanan dari singkong

godhong boled: daun singkong

Kenangan Celana Dalam

Aku malu sekali mendapati celana dalamku yang sudah kondor, berbintikbintik hitam dan berserabut mawut, dia bolak-balikkan beberapa kali dalam sehari. Seminggu ini. Bahkan setahun ini.

Ya! Celana dalamku memang sudah tidak layak pakai dan tidak aku ganti-ganti dengan yang baru. Ada sekitar selusin celana dalam yang seperti itu. Aku tidak ingin membuangnya. Sama dengan rasa ini kehilangan Mudin. Sama (juga) (sebenarnya) beratnya kehilangan Jukri, suamiku yang mungkin kini sudah jadi gelandang atau gembel.

Hujan belum akan turun, sebenarnya. Dia buru-buru naik ke lantai atas kemudian mengangkati semua jemuran. Tanpa sepengetahuan dia aku membuntuti dari belakang. Tanpa malu yang seperti kuderita dia juga mengangkat celana dalamku. Sama sekali tidak malu. Bahkan dia sambil bersiul-siul. Aku jadi malu sendiri lalu memilih menelungkupkan badan menyandar ke pintu.

Tiba-tiba panas kembali ke jemuran di rumahku. Tanpa putus asa dan seperti sabar sekali, dia kembali menggelar pakaian-pakaianku juga celana dalamku. Saat celana dalamku mendapat giliran itulah hatiku merasa deg! Lalu terlintas sepertanyaan di hatiku: “apakah kau juga mau memegangi kemaluanku tanpa sungkan, seperti yang kau lakukan pada celana dalamku? Seperti yang dia lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Seperti yang mereka lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Ah, dia masih terlalu mahasiswa. Dia belum tahu apa-apa ditahun pertamanya kuliah.” Gumamku. Aku menggigit jariku karena teringat hal yang sama persis pernah terjadi lima tahun silam. Bedanya begini:

“Sedang apa kau Din?” tanyaku buru-buru melihat Mudin sedang menggosok-gosokkan celana dalamku ke penisnya yang masih terbungkus celana dalam. Eh-ah-eh-em Mudin tidak bisa menjawab pertanyaanku yang sebenarnya tidak perlu berpikir untuk menjawab. Aku memilih menghampirinya yang sedang memainkan celana dalam.

Dengan isyarat mata satu saja, Mudin lalu mengekoriku seperti kucing kelaparan. Langkahku genap sampai ranjang, jarum jam pada jam dindingku menunjuk angka delapan, jarum lain memlih angka dua belas. Ya! Jam delapan tepat. Suamiku baru saja ngantor. Dan ranjang ini juga baru saja kubersihkan.

“Ayo Din? Naiklah ke ranjangku?” pintaku pada pemuda bersih dan berotot yang baru sebulan tinggal di rumahku. Dia kuliah di sebuah PTS yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Setelah ku gali lengkap identitasnya, ternyata dia anak dari desa kecil. Lantas aja saat pertama ke sini terlihat dekil dan tidak terawat. Tapi, kini tubuhnya semakin atletis dan menggoda. Apa lagi kalau dia telanjang dada. Fiiuh! Sekilas, aku lantas melupakan nasib suamiku yang juga melupakan nasibku. Aku sering mengintipinya mandi. Aku sering mengintipinya tidur, ganti baju, dan …ternyata dia melakukan hal yang sama denganku.

“Ayolah! Tunggu apa lagi” pintaku tak sabar. “Bukankah Tante sudah membersihkan ranjang ini? Aku takut mengotorinya lagi, Tan?” katanya sambil masih memegangi celana dalamku dan kemaluannya sendiri. “Kau jangan takut, nanti Tante akan bersishinnya lagi. Sini!” aku mengulurkan kedua tanganku yang sepertinya siap menerima badannya jatuh di dadaku. Brukk! Dia menindihku. Aku mengusap punggunggnya yang memanas. Dia membalas mencakar-cakar dada dan pahaku sampai aku berjerit. Dia malah tidak memperdulikan teriakanku. Sampai akhirnya aku mengaku kalah dan mengaku kehebatannya lebih dari Jukri, suamiku. Dia menepuk-nepuk dada sampai ratusan kali. “Ya, kau memang hebat, Mudin” pujiku. Dia tersenyum, sama seperti senyum suamiku waktu muda dulu. Tapi, mudanya suamiku saja masih kalah sama Mudin. Sebab mudanya suamiku umur 40 tahun. Lima belas tahun di atasku. Ya! Saat diumur keempat puluh tahunnya, aku merasakan persenggamaan pertama dengannya.

Awalnya, Jukri adalah pengusaha di pasar kecil. Dia punya kios yang menyediakan sembako. Tahun pertahun usahanya berkembang pesat hingga akhirnya dia memilih beralih menjadi pengusaha penyalur air di desa kami, karena dia melihat peluang itu. Dia memang tak pernah membaca buku T.Robert Kiyosaki yang selalu menekankan kebebasan finansial. Namun, dia menemukan sendiri teori itu. Dengan susah payah dia memutar otak dan berhasil mendirikan perusahaan pendistribusian air. Saat musim kering usahanya itu sangat maju, saat musim hujan perusahaannya mampu menggantikan PDAM yang belum menjangkau pelosok desanya.

Dia benar-benar menjadi orang kaya saat itu. Semua orang sangat tidak menyangka, terlebih keluargaku. Saat itulah, inisiatif Bapak mengajakku ke sini. Aku ‘dianjurkan’ menikah dengan Jukri. Jukri yang statusnya sebagai lelaki tak mungkin mampu menolak keinginan Bapakku mengawinkan dengan perawan desa cantik sepertiku.

Kenyataan yang menimbulkan semua teman kuliah semester pertamaku selalu bertanya: “Kau sungguh-sungguh mau menikah? Dengan kakek-kakek yang kau ceritakan itu? Apa nggak sayang badanmu yang sudah mulai kau make up jadi wajah kota itu? Banyak lho yang mau sama gadis cantik sepertimu. Apa lagi kau dari desa” komentar Wiwin, teman kuliah yang pertama kenalan denganku dan akhirnya satu kos saat itu. “Maksudmu? Bukannya gadis kota lebih baik? Lebih seksi dan lebih modis?” sangkalku. “Belum tentu! Dan justru itu perempuan kota jadi tidak berharga di mata lelaki. Saking genjarnya budaya western, kini perempuan dipasung sebagai barang hiasan. Inferior. Akibatnya, banyak klab-klab menyediakan free for ladies, sehingga tamu yang muncul kebanyakan perempuan yang berikutnya mengundang si hidung belang, lelaki. Setelah itulah perempuan diperjualbelikan. Dan perempuan-perempuan sepakat dengan harga yang ditawarkan dan imbas yang dia terima. Waduh!” Wiwin menepuk jidat saat itu. Aku merenung. Mahalnya keperawanan bagi orang sepertiku, tapi alangkah tidak berharganya bagi sebagian besar perempuan Jakarta.

Peristiwa memalukan itu benar-benar terjadi. Perusahaan penyalur air sehat yang dikelola Jukri, suamiku dituduh penyebab utama keracunan masal di desa Suro. Untunglah aku punya teman dari LSM perberdayaan Masyarakat yang menguatkan alibi bahwa perusahaan suamiku tidak bersalah, tapi ada oknum yang sengaja memasukan bubuk racun serangga ke setiap 5000 liter air yang kami beli dari Perusahaan Mata Air Pegunungan Pancasan.

Hingga aku akhirnya dikucilkan dan diasingkan dari desa oleh warga –sebab mereka kadung murka atas musibah yang ditimbulkan oleh air dalam tangki –, kasus itu belum selesai diusut. Yang setelah aku analisis ternyata itu permainan Kades Ripto yang ingin membangun perusahaan yang sama dengan kami. Karena dia mengenal orang-orang Polsek, dia mudah sekali menutup kasus itu. Karena kalau dilanjutkan dengan hukum yang benar, aku yakin kepolisian Indonesia akan menangkap orang-orang seperti dia, yang senang bermain-main dengan api. Sementara itu, aku bukan kerabat polisi apa lagi hakim.

Aku kapok hidup di desa. Yang aku kira tidak ada budaya main mata, ternyata sudah ikut-ikutan metropolitan yang sudah mengental lama.

Aku dan suamiku, Jukri. Dengan sisa tabungan dan posisiku sebagai seorang Manajer muda di perusahaan konveksi kami bertekad hidup di Jakarta. Jukri yang aku tahu, punya banyak ide-ide gila dalam memainkan uang, mati kutu sampai di Jakarta. Dia keburu ngeri melihat investor-investor asing bermain dolar dan perbankan. Sementara yang dia tahu rupiah dan dompet. Teori kebebasan finansial yang sepertinya dia ciptakan di desa, tak mampu dia terapkan melihat kini perusahaan menggunakan bermacam metode. “Aku bingung hidup di Jakarta. Aku sama sekali buta istilah mereka: MLM, Outsourching, Frenchise, money laundering, inflasi. Akh! Aku kan hanya tamatan SD. Yang aku tahu angka yang tertera di tubuh uang, bukan apa saja yang terkandung dalam uang” kata suamiku andai dia mengerti bahasa perekonomian.

Sebagai seorang Sarjana, aku iba melihat ketimpangan di keluarga kami. Aku ingin mengkursuskan dia pada sebauah lembaga pendidikan, namun dia buru-buru menolak dan mengolok-olokku dengan: “Anjing!”, “Bajingan!”, “Aku orang bodoh!”, “Dimana harga sebagai lelaki”. Sederetan pertanyaan yang menyebabkan ingin sekali ku bertanya kembali apakah genital itu perlu dipermasalahkan? Hingga, kini banyak bermunculan kaum feminis sebagai pendobrak kepatriarkhian?

Beberapa bulan kemudian, aku –atas ijin mas Jukri –membeli rumah kecil di Taman Kota. Agak lega juga bisa keluar dari kontrakkan yang pengap. Setiap hari aku banting tulang mencari uang. Dan bebanku semakin bertambah dengan kehadiran Meyka, anak pertama kami lahir. Aku selalu ingin membentak suamiku agar lekas mencari pekerjaan, saat itu juga aku tersadar dia tak makan bangku kuliah. Aku memakluminya.

Sampai suatu hari Pak Burhan, Direktur perusahaan kami iba melihat suamiku yang terus menganggur. “Bagaiman kalau suamimu kerja saja di sini. Tapi, kita tempatkan di kantor cabang biar dia tidak terlalu iri melihat posisimu di perusahaan”.

“Bagaimana kerjaanmu, Mas?” sapaku sepulang ngantor. Jukri ditempatkan sebagai pengawas gudang di kantor cabang Indotex. “Biasa,” dengusnya. Pertanyaan itu sampai melarut dalam hitungan bulan. Dia sekarang acuh. Tidak bersemangat melihatku. Seolah aku ini sesuatu yang tak pantas dilihat.

“Besok aku ke Lampung, Mas. Pak Burhan menugasiku mengamati kantor baru di sana” kataku memberi tahu sekaligus meminta ijin. Dia tak berkomentar lebih selain anggukannya yang berat.

Keberangkatanku ke Lampung ditunda karena pesawat yang kami pesan mengalami kerusakan. Entahlah, Pak Burhan tidak memesankan tiket pesawat lagi untukku sehingga aku terpaksa kembali ke rumah.

Tak ada berita yang lebih menyakitkan selain melihat suami sendiri bergoyang-goyang dengan perempuan lain diranjangku. Aku menangis, tapi itu sia karena dia memilih berhenti mencintaiku. Aku memberati Meyka, dan aku pun membiarkan suamiku bergoyang di ranjang dengan perempuan lain sampai beberapa lama.

Meyka, anakku mulai masuk TK. Sudah hampir lima tahun aku tak disentuh Lelaki. Kalaupun Jukri suatu malam memintakan tubuhku, itupun atas dasar nafsu belaka. Seperti yang terjadi pagi ini juga:

“Kau memang hebat, Mudin?” pujaku sekali lagi pada pemuda kos yang baru sebulan tinggal. “Kau setuju kalau aku menyingkirkan Jukri dari sini?” tanyaku meminta saran. Dan dia mengiyakan tapi piciknya dia tidak mau menjadi suamiku. alasannya macam-macam: masih mahasiswalah, umurlah, belum restu orang tualah. Diapun hanya merenggut tubuhku.

Sampai akhirnya, Jukri benar-benar aku usir. Karena memang ini rumahku. Aku yang membeli. Rasa sakitku sedikit terbalas meski berarti aku tidak memberati Meyka lagi. Dan statusku serumah dengan Mudin, entah mau dinamai apa.

Mudin telah disarjana, kini datang lagi pemuda kos di sini. Dia lebih ganteng dari laki-laki yang aku kenal sebelumnya.

Tiba-tiba hujan kembali menyerbu jemuranku. Tanpa putus asa dan seperti sabar sekali, dia kembali mengangkati pakaian-pakaianku juga celana dalamku. Saat celana dalamku mendapat giliran itulah hatiku merasa deg! Lalu terlintas sepertanyaan di hatiku: “apakah kau juga mau memegangi kemaluanku tanpa sungkan, seperti yang kau lakukan pada celana dalamku? Seperti yang dia lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Seperti yang mereka lakukan pada celana dalam kemudian kemaluanku? Ah, dia masih terlalu mahasiswa. Dia belum tahu apa-apa ditahun pertamanya kuliah.” Gumamku. Aku menggigit jariku karena teringat hal yang sama persis pernah terjadi lima tahun silam.

 

perempuan penyelamat hutan

Perempuan Penyelamat Hutan

(Cerita dari India tentang Amrita Devi; penyelamat hutan)

 

Dahulu kala, di kampung Kaghadali, kerajaan Dahlan pernah terjadi pertempuran darah. Mereka adalah prajurit penebang pohon dengan penduduk yang tinggal dekat hutan tempat pohon ditebangi.

Kejadian itu bermula dari kisah berikut: suatu hari Amrita Devi yang melihat parajurit penebang pohon merasa prihatin dan ingin kegiatan itu dihentikan.

Anehnya, baru kali itu dirasakan Amrita Devi hutan di sekitarnya perlahan habis. Dan dia baru menyadarinya, kalau dia sangat sedih melihat itu semua.

Dengan keberanian yang ada, Amrita Devi mendekati prajurit penebang pohon yang jumlahnya ratusan.

“Hai! Hentikan kegiatanmu!” serua Amrita Devi dengan berkacak pinggang. Matanya dilotot-lototkan tanda kemarahannya. Prajurit yang sedang menebangi pohon menghentikan kerjaannya sejenak.

“Siapa kau? Berani-beraninya melawan titah raja!!” kata seorang prajurit yang ternyata adalah pemimpinnya.

“Aku Amrita Devi. Aku tak perduli itu titah raja atau bukan. Aku hanya ingin penebangan pohon-pohon ini dihentikan! Udara di sini semakin panas gara-gara pohon terus ditebangi.”

“Lalu kau apa kalau kami tak mau menghentikan penebangan pohon ini. Hahahaha” kata pemimpin prajurit sambil terbahak-bahak.

“Pokoknya aku akan melawan kalian. Ciattttttttt!” Amrita Dei berlari ke arah Pemimpin dengan mengepalkan tangan siap memukul. Namun, dengan mudahnya Pemimpin menangkis pukulan itu. Prajurit lain menertawakan.

“Ikat dia dan gantungkan di pohon!” perintah Pemimpin, dan dengan sigap tiga prajurit mengikat dan menggantungkan Amrita Devi di pohon besar.

“Aku tidak akan menyerah! Kalian rasakan saja nanti akibatnya!” teriak-teriak Amrita Devi yang sudah menggantung di pohon.

Malam tiba, Amrita Devi dibiarkan tetap di pohon besar itu. Dalam hati, dia tak hentinya berdoa agar ada orang yang lewat dan membebaskannya. Kemudian dia juga akan mengajak penduduk kampungnya agar mau ikut melawan penebang pohon itu.

Namun, sampai pagi belum ada seorangpun yang lewat di situ begitupun para prajurit penebang pohon, mereka menebang pohon setiap seminggu sekali. Amrita Devi bingung, tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa menangis dan sesekali berteriak; “tolong….!”

Sampai satu minggu, tak ada seorangpun yang melintas ke hutan. Amrita Devipun meninggal tergantung di pohon.

“Hahahaha…. dia sudah mati.” Seru keras pemimpin prajurit penebang pohon begitu kembali ke hutan. Lalu mereka kembali menebangi pohon dan membiarkan mayat Amrita Devi bergantungan di pohon.

Tiba-tiba datang serombngan penduduk Kaghadi mencari Amrita Devi. Mereka mengira, prajurit inilah yang menculik Amrita Devi, gadis tercantik di Kaghadi.

“Maksud kalian perempuan itu?” pemimpin menunjuk pohon dimana tergantung Amrita Devi yang sudah tak bernyawa.

Melihat itu, penduduk Kaghadi sangat geram. “Ayo… kita serang prajurit-prajurit tak bermanusiawi itu!” seru salah seorang penduduk bersemangat.

Jumlah penduduk Kaghadi kalah banyak dari prajurit penebang pohon. Sehingga, dengan mudah penduduk berhasil dikalahkan. Sebagian penduduk telah terbunuh dan sebagian lagi memilih kabur menyelamatkan diri.

Seminggunya lagi, penduduk Kaghadi telah siap dengan pasukan yang lebih banyak. Bahkan mendatangkan dari kampung tetangga.

“Ayo… serang mereka!!!” salah seorang penduduk mengkomando penduduk dengan semangat berapi-api. Peperangan hebat kembali terjadi. Prajurit kini jumlahnya kalah dibanding jumlah penduduk. Dengan mudah prajurit itu diusir dari hutan. “Kami akan kembali!” seru pemimpin meninggalkan penduduk.

Prajurot yang selamat kembali ke istana dan menceritakan kepada raja Jotho. Dan betapa kagetnya sang raja mendengar berita menyedihkan itu. Padahal, dia tidak pernah merasa menitah prajurit untuk menebangi semua hutan. Beliau hanya butuh beberapa kayu untuk membuat sebuah kapal.

Setelah raja berpikir-pikir, ternyata itu adalah ulah pemimpin prajurit penebang pohon yang menebang pohon semaunya sendiri untuk dijual ke Negeri tetangga. “Iya baginda. Saya yakin, dalang semua ini adalah pemimpin prajuritnya” jelas penasehat kerajaan yang diamini oleh raja.

Rajapun meninjau langsung hutan itu dan meminta maaf kepada penduduk Kaghadali dan sekitarnya. Penduduk yang masih bersedih karana kehialangan sebagian sanak-saudauara dan juga putri terbaik Amrita Devi, dapat menerima penjelasan raja yang memang dikenal sangat bijaksana.

Amrita Devi tersenyum melihat itu dari Surga. Sejak itu juga, di India setiap ada orang yang menebang pohon semaunya sendiri akan dilawan oleh semua orang.

 

 

cintanomate

Cintanomate

Kenken masih melongo. Mata dan bibirnya mengisyaratkan belum mau percaya Yuke ditembak tujuh cowok dalam satu minggu ini. “Wah… lo hebat banget Ke?” sementara Ferla tergumam-gumam. “Trus? Lo mau selingkuh sama yang mana? Apa ketujuh-tujuhnya?” tanya Kenken asal. “Mmm… yang mana ya?” Yuke mengetuk-ngetuk kepala sambil mendongak ke atas. Kedua sahabatnya menanti-nanti kalimat Yuke berikutnya hingga bel masuk terpaksa mengakhiri topik pagi ini. Semuanya kembali ke buku Kimia dengan rumus etil dan dimetilnya. Semuanya mendendang: “Tangan ke atas, tangan ke samping, tangan ke depan, duduk yang rajin”. Semua mata harus memperhatikan baik-baik penjelasan Bu Krido, sebab kalo nggak bisa berabe! Spidol, penghapus bahkan sepatu sang Guru berambut keriting itu bisa melayang-layang. Zeremmm…mm. Semua siswa pun menuju pelajaran Kimia dengan dag.dig.dug!

Bel panjang berhasil mengusir Bu Krido. Semua siswa bernafas kembali. Kenken sampai asmanya nyaris kumat gara-gara menahan diri nggak bicara terus. Si Rono lebih parah lagi, setelah Bu Krido say goodbye dia mengaku buang gas sampai sepuluhan kali. “Hoo.. dasar jorok!” Kenken mengolok-olok, sebagian besar yang lain menertawai. Ya begitulah tabiat Rono di SMA Farida: konyol! Sementara Yuke nggak menggubris kelakuan temen-temen sekelas, dia memlilih lekas-lekas ke kantin untuk menyantap bakso kesukaan. “Ne’ tunggu Ne’!” jerit Kenken melihat temen sebangku dan seperjuanganya sudah menghilang begitu saja tanpa konfirmasi. Ferla seperti anak teka mengerengek manja: “Hhhh… tungguin gue!” langkahnya kemudian lebih mirip anak kecil bermain lompat tali.

“Hah? Yuk.. Yuke?” belum genap kaki Kenken menginjak lantai kantin, dia kembali melongo mendapati Yuke sedang ngobrol sama seorang cowok. Lima detik kemudian, terdengar suara sepatu Ferla ‘mengerjit’. Ci..iiittttttttttt! mirip mobil nyaris menabrak tukang becak, namun dengan tangkas sopir itu memainkan rem hingga angka kecelakaan tak jadi bertambah. “Hssssstttt!” Yuke mengkomando adik seperguruannya berhenti mirip si kera Go kong menjewer adik Pat Ke. Keduanya lalu lebih sering melongo sampai lalat-lalat ijo pada naksir dan masuk ke mulut mereka. Hii… Jijay!

“Aduuuh! Lo tu mau jadi pembunuh apa?” keluh Ferla kesal karena dari tadi nggak diperbolehkan masuk kantin sama Kenken. “J..jangan! entar kencan Yuke sama tuh cowok gagal! Dia pasti malu ketahuan sama kita. Nggak bakal mati nggak kalo nggak makan kali ini” Kenken mendesis. “Uuggghh… Baby gue nih belum breakfree.. kacian!” Ferla mbesungut. “Breakfast!!!” seru Kenken membetulkan. “Bodo!” Ferla memasuki kantin dan melewati meja yang diduduki Yuke.

“Aloooww, Yuk.Yuke…” Ferla sok barbie. “Hai…” giliran Kenken yang kelihatan banget salah tingkahnya. Yuke tersenyum kuda. Sementara cowok yang ternyata mengenakan nama “Aguzta Narifki” di dadanya hanya tersenyum sebisanya. Kemudian mirip di kafe-kafe dan diskotik, Ferla dan Kenken menuju bartender untuk memesan bakso plus es teh.

“Hoi… Kalian duduk di sini aja!” panggil Yuke. “Ya, udah gue duluan aja yah? Harus nempelin-nempelin pamflet juga nih! ” cowok yang masih pake nama Aguzta berpamitan. Yuke yang memang sudah paham kesibukkannya sebagai ketua majalah sekolah mengangguk mengiyakan. Ferla dan Kenken saling berpandangan, kemudian setelah Aguzta bener-bener lenyap mereka bergegas boyongan ke meja Yuke. Nafas mereka terengah seolah baru mengalami kejadian aneh. Yuke malah tersenyum-senyum melihat kedua sahabatnya kayak monyet ketembak.

“Gila ya, cowok sepopuler Aguzta nemplok juga ke lo!” Kenken kembali bergumam-gumam. “Iya. Resepnya apa sih Ke? Minum beras kencur sama kunyit asem tiap pagi ya?” ledek Ferla nggak meaning banget. “Gue juga nggak ngerti kenapa semua cowok keren pada nembak gue. Lagi hoki kali! hehehe” jawab Yuke meringis. “Trus? Si Nando gemana? Kalo nggak kepake buat gue ajah,” Kenken menyikut lengan Yuke. “Enak aja! Emangnya Nando baju apah! Nggak kepake-nggak kepake! Hooo…!” Yuke sedikit sewot. “Udah! Udah! Jangan pada bertengkar. Kita bertiga sudah lama sobatan. Nggak baek musuhun, apa lagi karena cowok!” kali ini Ferla jadi cewek sok dewasa. Yuke dan Kenken buru-buru mengolok-olok.

Tet.tettttttttttttttttttttttttt!!! kali ini bel pulang yang menjerit. Semua kembali bisa bernafas setelah di hajar milyaran rumus Trigonometri. Di atas kepala Ferla, tujuh bintang mengerling merah-kuning-ijo lengkap dengan aneka tanda baca dan huruf Romawi. “Hoi! Pulang Hoi!” Kenken menggebrak meja Ferla dengan pukulan mataharinya. Ferla terpental sampai dia berolok: “Iiih! Betein banget deh!” “Buruan pulang, entar jemputan elo complain lho! Tuh si Yuk…” Kenken menoleh ke mejanya, ternyata Yuke udah cabut lebih dulu. “Buruan akh! Yuke udah ilang tuh.” Kenken menyambar tangan Ferla, menyeretnya bak tawanan.

“Hah? Yuk.. Yuke?” bola mata Kenken sengaja dikeluarkan semua. Radius sepuluh meter tampaklah Yuke hendak masuk mobil Honda Jazz merah. Ferla yang udah bawaannya bloon mengikuti apa yang dilakukan Kenken. Mata mereka mengikuti gerak mobil itu menjauh sampai menghilang di tikungan depan. “Siapa lagi ya Fer?” “Iya yah Ken?” balas Ferla tanpa waktu tunggu, tapi malah diganjar jitakan kecil oleh Kenken: “Ditanya malah bales nanya! Bego lo ah.” “Kalo gue pinter entar kalian nggak njitakin pala gue lagi…” ujar Ferla lebih polos. Kenken kemudian mengingatkan kalo Pak Kimin sudah kelihatan mau complain dari tadi, Ferla pun menuju Avanza hitam yang sedari tadi nongkrong di depannya. Keduanya saling say goodbye

Besoknya

Kenken bersama si APV berhasil mendarat di depan gerbang sekolah persis. Jalanan ruwet kota Jakarta tak membuatnya lupa jalan menuju sekolah. Maklumlah! Diantar sama Pak Sopir. Kalo pun nggak diantar Pak Sopir dia juga nggak akan kesasar, kan diantar sama Boni, kakaknya, ato Henar, gebetan satu-satunya. Hep! Kaki kirinya mendarat dengan sempurna diikuti yang kanan nggak berapa lama setelahnya. ““Hah? Yuk.. Yuke?” kali ini bukan hanya bola mata Kenken saja yang dikeluarkan, kacamata minusnya pun dikeluarkan lalu dicantolkan ditelinga. Sekarang dia melihat lebih jelas, tapi malah dia melepas lagi kacamata itu, tangannya bersemangat mengucek hingga dia perlu obat tetes mata setelahnya sebab terjadi infeksi saat dia mengucek dengan intensitas dua ratus kali dalam satu menit.

“Eh, Kenken. Selamat pagi…” sapa Yuke berseri-seri. “Sss…selamat page Ke?” balas Kenken masih mengelap sisa airmata yang keluar perih. “Kemarin lo dijemput pake Honda Jazz sekarang dianter pake Toyota Harrier, besok apa lagi Ke? Hm, jangan-jangan Bokap lo tukang parkir ya? Eh, salah, salah!” Kenken buru-buru meralat. “Bokapmu kan manajer tuh, tapi… manajer sumber daya parkir! Hahaha” ejek Kenken dibubuhi tawanya. “Yee.. itu tadi Hesa, cowok yang lagi KKP (Kuliah Kerja Praktek) di perusahaan Bokap gue. Karena satu kantor sama Bokap, jadi sekalian aja deh dia tinggal di rumah gue..” jelas Yuke lengkap. Kenken manggut-manggut. “Eh, trus si Nando gemana donk? Buat gue aje ye!” tiba-tiba Kenken inget nama itu. Yuke sepertinya no comment aja ditanya gitu.

“Lo mau kemana Ke?” tanya Kenken melihat Yuke beranjak dari bangkunya, bel masuk kurang lima belas menit lagi. Kenken kemudian menggaruk-garuk tas Yuke. “Nah, ini dia!” ujarnya pada dirinya sendiri setelah menemukan buku bertuliskan “Tugas Matematika”. Mata Kenken yang masih berairmata dan merah akibat kucek-kucekan tadi kembali harus dikucek. “Gue sebel sama Nando! Nando egois… Nando nggak sayang sama Yuke! Gue bencii….” salah satu dari milyaran keluhan Yuke Kenken baca berulang-ulang. “O..” Kenken manggut-manggut sendiri setelah semilyar keluhan Yuke berhasil dia khatam’kan. Lima belas menit berikutnya Yuke telah kembali, persis di belakang Yuke adalah Pak John, Guru Bahasa Inggris terfavorit seantero SMA Farida. Kenken memasang wajah innocent­-nya seolah nggak terjadi apa-apa.

Natal

Rumah-rumah telah dihias dengan pohon Natal, lagu-lagu Natal nggak ketinggalan mengisi semua ruang-ruang rumah. Yuke tampak sibuk berdandan di depan cermin setinggi badannya. “Ke!… Yuke!!” panggil nyokapnya Yuke dari luar kamar. “Ya.. Mah,” jawab Yuke sambil melipat kedua bibir ke dalam. Lipstiknya sudah merata! “Ada yang nyariin,” “Iya Mah, bentar!” dia kembali mengelap lembut make-up di wajahnya. Blus putih transparan membalut kulitnya yang mulus. Kini, dia tampil perfect!

“Hah? Ken… Kenken?” kali ini mata Yuke yang dipaksa membelalak. Mata Yuke makin membelalak ketika mulutnya berucap: “Nan… Nando?” telunjukknya diarahkan pada dua makhluk di depannya. “Kenken? Nando?” akhirnya setelah menjalani beberapa kali latian, ujarannya pun lancar dan dia tersadar ini bukan mimpi. Bahwa yang berdiri di depannya benar-benar Nando, kekasihnya yang sedang kuliah di Jerman.

“Sory Ke? Karena Nando udah nggak kepake, maka mulai sekarang dia bakal jalan sama gue,” kata Kenken mengeluarkan semacam pengumuman sekaligus ancaman. Mata Yuke meleleh, sebabnya bukan seperti yang dialami Kenken: akibat dikucek, namun merasa nggak percaya Nando jadian sama temennya sendiri. “Nan..Nando? Gue sayang lo…” Yuke mewek. Bahunya seperti pohon ditebang. Mukanya menunduk.

“Terus napa donk lo hunting cowok sampe sepuluh lusin?” Kenken sok galak. “Yuke… Yuke.. sebel! Abisnya sekarang Nando sibuk sama pekerjaannya sendiri. Jarang sms, telfon, kirim email, apa lagi kirim wesel,” Yuke semakin menjadi meweknya. “Ma..makanya gue…gue… Yuke cari-cari cowok sebagai hiburan. Tapi… setiap malem gue berharap Nando telfon… tapi nyatanya…” Yuke semakin histeris menangis, tangannya tak henti-henti memilin-milin blusnya yang sudah disetrika lima belas kali. Nando menghampiri, Yuke dag.dig.dug.

“Maafin Nando yah, gue tahu ini semua salah gue,.” Tiba-tiba Nando menubruk tubuh Yuke, memeluknya erat. “Tapi, lo pulang bukan alasan Natal kan? Karena pengen ketemu gue kan?” Yuke beraksi memamerkan kebolehannya berakting manja. “Gue pulang karena… mmm..” Nando makin membuat Yuke makin lama menahan nafas. “Karena apa,” tanya Yuke nggak sabar. “Karena….. di telfon Kenken.” Brak!!!!!!! Yuke memilih pingsan di pelukan Nando. Kenken berteriak histeris melihat temen baiknya shok mendengar pengakuan Nando.

“Aduu…uuhh, lo bego banget sih Do! Napa juga lo ngomong pulang karena ditelfon gue?” sesal Kenken menyalahkan Nando. “Ya… emang gitu kenyataannya,” balas Nando tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Iiiih…! Pasti Yuke nyangka Kita bener-bener jadian tau!” Kenken semakin sewot. “Yang nyuruh kita ngaku jadian syapa?” Nando nggak mau disalahkan.

“Teretetttttttttt….. ketipu semua! Hwahwahwahwahwa….” Yuke tiba-tiba bangun dari pingsannya kemudian berlari kecil ke dalam setelah berhasil mencium Nando dan berucap: “IloveU”. Kenken dan Nando berpandangan.

Catatan:

Cintanomate: cinta no mate, yang artinya kurang lebih “cinta yang tidak terbagikan/ tergantikan”

Resep untuk para penulis (pemula maupun tingkat lanjut)

Malam. Aku lewati tanpa memejamkan mata sedetikpun. Aku habiskan untuk memantengi layar monitor. Aku online ke sana-sini mencari apa saja. Salah satunya artikel (saya gunakan untuk bahan menulis) dan juga lomba or sayembara. Hm, beginilah kalau sok-sok’an jadi penulis…

Adzan Subuh, baru mengingatkan aku untuk segera memejamkan mata. Dan… yah, malampun berlalu tanpa kepuasan alam mimpi.

Pukul sepuluh tepat, hape-ku menjerit. Awalnya hanya angin lalu sebab mata ini masih ingin berlama-lama memejam. Tapi… suara itu, yah! Suara itu berkali-kali menjerit. Sampai kuping ini bengkak, kalau boleh saya katakan. “Ku tak bisa jauh. Jauh…. Darimu. Kutak bisa..” yah! Tepat banget! Itu liriknya SLANK, band kesayangan sekaligus inspitor buat saya maju. Huh! Ternyata teman kampus saya yang berkali-kali miskol. Oh my God! Aku ada kuliah! But setelah dipikir akhirnya memilih “nggak” aja pada kuliah.

Dari kasur usang yang hanya tergeletak di keramik putih aku mencoba meraih air putih. Glek! Lima tegukan sukses mengalir ke tenggorokan. Sebuah buku yang semalam, sebelum aku ke warnet sudah saya wiwiti tapi baru halaman pengantar sebab senyap menggiringku menuju warnet, segera. Lalu, aku mulai membuka halaman per halaman buku itu lagi. “Creatif Writing” judul buku ini. Penulisnya adalah penulis juga pengajar di Jakarta School, sebuah sekolah tempat belajar menulis. Awalnya saya tidak begitu suka buku macam “ginian” karena menurut saya buku-buku macam ini sifatnya subjektif bukan normatif apa lagi objektif. Karena gaya menulis dan perasaan/ keadaan seseorang saat menulis sudah pasti berbeda-beda. Jah! Nggak ada yang membatasi kamu mau menulis apa, dengan gaya apa dan seberapa. Free aja kok!

Sedikit saja dari halaman pertama buku itu langsung saya amini. “Rahasia kreativitas: Mendekatkan tangan dengan otak” hm, benar juga. Otak adalah si penghasil segala ide, but tanpa adanya tindak lanjut semua ide masih terkungkung sebagai sebuah konsep asbstrak. Kalian tentu sering mendengar: “Saya sudah bisa membayangkan dan sedikit merangkai-rangkai bahkan sudah saya urutkan dengan apik. Tapi… saya kesulitan: mengawali, mengalurkan, menuliskan ke dalam kertas, mesin ketik dan komputer” bah! Sama aja Neng! Kalau dalam dunia pengarang mah kamu cuma dikatain omdo alias omong doank! Gemana tuh???

Salah satu langkah biar tidak selalu kesulitan menuliskan konsep dan segala ide itu ya dengan langkah awal seperti yang sudah saya sebutkan tadi: mendekatkan tangan dengan otak. Dari pengalaman pribadi, ternyata cerpen saya kian hari kian membaik dari segi kualitas. Saya merasa ada “penemuan-penemuan” yang tidak terduga setelah menulis beberapa kali. Yah! Kebiasaan. Sekali lagi kebiasaan.

Menulislah meski profesimu bukan penulis. Albert Enstein, Tokoh yang dikenal sepanjang abad-20 tidak pernah dikenal sebagai penulis tapi ia telah menulis lebih dari 2.000 makalah. Fiuh! Belum kebayang neh! Ketika anda menulis, otak akan merekam dengan baik setiap gagasan anda, dengan demikian anda tak mudah sesat dan kehilangan ilham. Menekuni bidang apapun, anda perlu menulis agar otak anda makin terasah (A.S Laksana 03:2006)

Miss Chubby Jadi Miss Natal

Dia bete banget tiap pagi dikatain “miss chubby nggak laku-laku”. Ingin sekali dia tempelang setiap anak yang berani ngatain githu. Kalau diitung udah sekitar tiga puluh sembilanan anak ngatain githu, ‘coz jumlah siswa sekelasnya empat puluh termasuk dia. Sebenarnya dia nggak jelek dengan perawakannya yang chubby, justru terkesan ngegemesin malah. Apa lagi ditambah mukanya yang imoet. Hmm kayak Nadia Vega! or Gwen dalam film 30 hari mencari cinta, dijamin! Semua yang ngelihat pada pingin nyubit kenceng-kenceng nih cewek. However, these is an executive class! Yep! Ini adalah kelas eksekutif. (hehehe mirip kelas-kelas kereta api yach?)

Kurang lebih githu emang, di sini adanya cewek-cewek jangkung ‘en kece. Mirip modeling school pokoknya! Finally, Dena atau si chubby-pun cuman bisa gigit jari ngelihat teman-teman ceweknya jadi huntingan cowok. Nggak satupun cowok nyantol ke hatinya. Deu, kacian deh!

Menyambut perayaan Natal tahun ini, rencananya OSIS SMA Yohanes mengadakan lomba pemilihan Miss Natal 2007. Cewek sekelas ribut nyiapin formulir dan persyaratan lomba. Dena??? Yah, cuman bengong meratapi nasibnya. “Kamu kenapa Den? Diem gitu kaya Monas!” sentak Neke membangunkan lamunan Dena. “Eh.. emm…eh” gagap Dena. “Heh!, napa lo? Kaya kesurupan jelangkung ajah!” bentak Neke menyikut lengan Dena yang kokoh menopang dagunya. “Ng..ng…ng nggak papa,” balas Dena lemas. Neke nggak merespon lebih, dia cuma membulatkan bibir sambil manggut-manggut, kedua tangannya memegangi selembar kertas. Dena melirik ke arah kertas itu, sesekali lirikannya ketangkep sama mata Neke, Dena kikuk. “Kamu nggak ngambil formulir Den?” tanya Neke tanpa tahu perasaan Dena sedari tadi lagi mikirin hal itu. “Hm,,mmm nggak ah, Aku kan kecil, chubby!, mana bisa!” katanya nyaris tak kedengaran suaranya. Neke lalu menatap ke arahnya, mata Neke memancarkan sinar persahabatan yang tulus. Neke menarik nafas sedalam dadanya. “Jangan githu Den, itu kan karunia Tuhan. Harus Kita syukuri” kata Neke dengan mimik seriusnya. “Mending Kamu ikutan lomba aja deh. Lagian, nggak ada syarat minimal tinggi badan inih” lanjut Neke setelah lima detik bisu. Dena tak merespon, dagunya nyaman bersandar di meja. Sebentar, bel masuk mengantarkan pelajaran Kimia ke kelas mereka.

Paling nggak sampai seminggu ke depan Dena “aman” dari celaan teman-temannya. Mereka jelas lebih sibuk ngobrolin pemilihan Miss Natal ketimbang ngomongin Miss chubby nggak laku-laku. Tapi buat Dena ini malah lebih menyakitkan, ternyata. Betapa tidak! Setiap hari sekarang yang diomongin melulu soal mode. Perang-perangan diantara mereka sulit sekali dihentikan. Apa lagi hampir semua cewek SMA Yohanes sudah mencicipi dunia model. Nggak sedikit juga yang sudah wira-wiri nampang di majalah, yep! Profesi seperti covergirl, model video klip, or ikut fashion show emang sudah nggak asing buat mereka. Dena cuman bisa melongo ngebayangin teman-temannya melenggang di stage. Bah! Syirik! Celanya pada diri sendiri. Dena melongok ke jendela kamar. Dingin sesekali permisi di leher belakangnya. Matanya menangkap gelap yang bermain-main di sela dedaunan. Derum mobil sepersekian menit terdengar lewat di jalan depan rumahnya. Natal Sebentar lagi, aku harus berbuat baik biar Santa Claus memberi hadiah Natal yang aku ingini. Dia bertekad nggak akan bete lagi dengan ejekan teman-temannya di kelas. Malam Natal nanti pasti Santa memberiku kado Natal yang indah. Hm, dongeng klasik buat anak teka! Desisnya.

Pagi bersinar cerah. Segumpalan awan putih berarak ke satu arah menyibak langit. Lalu biru terang memancarkan kilau pagi. Tidak ada kicau burung di sini, yang ada knalpot mobil membentuk bising. Bulan memucat seperti perak tergeletak di karpet biru. Matahari mulai meninggi. Sebentar lagi pasti langit perlahan semakin menghitam akibat asap mobil dan pabrik.

Dena melangkahkan kakinya mantap, memasuki pintu gerbang sekolah. Sebentar lagi, pasti telinganya berjubel obrolan Miss Natal. Tapi dia sudah berjanji semalam, dia nggak akan iri lagi. Brak! Badannya hampir roboh akibat tabrakan dengan seorang cowok gemuk adik kelasnya. Matanya seperti kelereng, seperti akan copot: “Heh! Jalan liat-liat donk!” bentak cowok berkulit item pekat, rambut keriting kecil-kecil itu. “Sialan! Berani benar adik kelas bentak gue! Dasar Aborigin!” gerutu Dena tapi belum sempat dia luncurkan kata-kata itu hatinya seperti berbisik “Sabar!”. “So…sory, nggak sengaja,” katanya kemudian. Mata si Gendut meredup mendengar ucapan maaf Dena. “Ya udah, lain kali ati-ati!” pesannya, sok menggurui. Dena melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Hm, cowok itu… desahnya mengingat si Gendut yang nggak sengaja bertabrakan dengannya tadi. “Aku kalah sama dia. Ya, aku kalah ternyata!” sesalnya, tangan kanannya condong menopang pipi. “Dia aja yang item, gendut, rambutnya keriting, wajah serem seperti gerandong, tapi dia nggak pernah mengeluh seperti aku? Ah, apa iya begitu? Mungkin saja sekarang di juga sedang memendam rasa minder yang sama kaya aku?” tanyanya dalam hati.

Duer! sekali lagi Neke-lah yang menganggunya bermain di alam mimpi. “Napa lo? Pagi-pagi dah ngelamun? Sakunya kurang ya?” sapa Neke mengajak bergurau. “Ah, nggak papa,” jawab Dena singkat. Matanya masih melihat mata cowok gendut tadi, ya! Mata kodok! Tawanya nyaris pecah. Tapi dia nggak mengeluh sepertiku. Bah! Dasar kurang bersyukur! Desis Dena.

Sepuluh menit berikut bel menjerit, Bu Vega sebagai guru beka (bimbingan dan konseling) masuk kelas tepat waktu. Semua siswa menekan riuhnya sedari tadi. “Anak-anak, seperti yang sudah kalian ketahui tentunya, seminggu lagi sekolah kita mengadakan pemilihan Miss Natal. Nah, kepala sekolah merevisi pengaturan peserta lomba. Kemarin, peserta lomba adalah siapa-siapa saja yang mau, tapi sekarang semua siswa sini wajib ikut.” jelas Bu Vega. Seluruh anak riuh mendengar pengumuman barusan. Ada yang setuju banyak pula yang kontra. Dena hanya manggut-manggut, tak sedikitpun histeris. “Bu,” panggil Berla sedikit keras sambil mengangkat telunjuk, suaranya berebut dengan suara rusuh anak yang lain. Psssttttttt… desis Bu Vega. Sontak semua anak diam. “Wah, apa nanti nggak kebanjiran peserta Bu?” lanjut Berla bertanya. “Tenang saja, itu sudah dipikirkan. Nanti akan ada seleksi akademik dulu sebelum masuk pada seleksi panggung. Semua hanya merespon dengan vokal “O” saja.

Mereka saling berbondong mengambil formulir, bahkan ada yang sudah mengembalikan. Dena melangkah gontai seperti sama sekali nggak punya gairah hidup. Neke selalu memberi spirit pada teman sebangkunya itu. “Percaya deh! lo bisa bersaing, kan bukan penilaian fisik aja. Ada yang lebih penting dari itu: Innerbeauty!” Telunjuk Neke ditegak-tegakkan persis di depan wajah Dena. Dena melongo. “Percaya deh, lo bisa ngalahin Nunik, Uky, bahkan Berla sekalipun,” tambah Neke menepuk bahu Dena yang seperti tak bertulang lagi.

***

Hari berganti, seleksi akademik untuk mecari kontestan mana yang layak menuju persaingan berikut telah berlalu. Dan… yep! Dena termasuk dalam sepuluh besar. Ini berarti dia tinggal nunggu moment besok, di mana semua kontestan yang lolos akan dipertemukan di satu stage. Mereka akan adu pengalaman, wawasan dan pengetahuan, siapa yang cepat dan tepat pasti bakal kepilih jadi Miss Natal tahun ini.

“Ayo Den, semangat!!! Langkahmu tinggal sedikit lagi! Aku yakin lo bisa ngalahin Mereka semua. Prestasimu kan…” Kalimat Neke nggak dilanjutkan. Dena hanya tercenung masih nggak percaya besok dia naik stage memperebutkan gelar terhormat seantero SMA Yohanes. Kemudian dia membayangkan seorang Nadine, Putri Indonesia 2006, sedang berargumentasi di depan juri. Hm, seru juga! Desisnya. Matanya mengerjap memohon doa dan ampunan atas ketakbersukurannya selama ini.

***

Pagi yang ditunggu tiba. Dena, Uky, Nunik,…. Berla dan Dena sudah siap di stage. Audience meneriakkan idolanya masing-masing, riuh! Di antara kontestan itu, memang Denalah yang terkecil, terimut dan terpandai prestasinya. Wajah Dena sumringah namun tetap teduh, tak sedikitpun kecemasan tergambar di sana. Mungkin dia memang sudah sangat siap bersaing dan bertekad menyandang gelar Miss Natal 2007.

Tim penilai mengajukan sejumlah pertanyaan, satu persatu kontestan menjawabnya. Rusuh Audience menggema ketika mendengar jawaban Dena yang… yah, bisa dibilang seperti pidatonya Bung Karno. Tegas! Dan pasti! Tanpa belibet-belibet di bibir. Semua Audience kini meneriakan nama Dena. Berbagai pertanyaan dia babad habis. Sangat mengagumkan! Sampai akhirnya: “Soal telah habis, kita tunggu tim juri menentukan siapa yang berhak menyandang Miss Natal 2007 di SMA Yohanes” suara host membisukan Audience beberapa detik. Sebentar, mereka kembali riuh membincangkan siapa-siapa yang mungkin terpilih. Ada tiga nama yang paling sering mereka sebut-sebut: Uky, Berla, dan Dena.

“Dena! Dena! Dena!” teriak Audience mengebaki auditorium. “Tenang! Tenang! Tenang semuanya!” seru host menenangkan. “Selanjutnya, Saya serahkan pada dewan juri untuk membacakan hasil” lanjutnya.

Perlahan, pemenang ketiga dan kedua dibacakan juri. Dena belum kesebut. Sontak saja penonton langsung meneriakan “Dena!” berulang kali. “…Dan Miss Natal SMA Yohanes 2007 adalah…” lima detik ruangan bisu. “… Dena Margaretta!” lanjut juri meneriakan nama Dena. Suaranya hampir menjebolkan tembok auditorium. “Dena! Dena! Dena!” sorak penonton gembira menyambut Miss Natal 2007. Dena melambaikan tangan dan memberikan senyuman terindahnya. Wajah riangnya semakin menggemaskan meski perawakannya yang chubby kerap jadi nilai minus bagi cowok yang mau mendekati. Kini, Dena harus bersiap-siap melayani antrian cowok SMA Yohanes. “Inilah kado Natal Sinterklas….” batin Dena masih melambaikan tangan dan senyuman.

Marry christmas….”

Semarang, 2007

Untuk: E. Tunjung Christ N “Semangat!!!”

inginku berpuisi sekali ini saja

Hantu Itu Bernama Selokan

 

Kasihan. Hanya rasa kasihan.

Mengamati Semarang diserbu air

Ini Nopember Bung! Jangan berani

Salahkan bila hari-harinya hujan

 

Magrib. Mengkomando burung-burung

Dan bermacam makhluk siang menutup pintu rumah

Gelap. Memaksa mereka berjubel membeli listrik,

Minyak tanah dan lilin. Mereka berlindung dari takut

Takut apa saja. Termasuk takut tak kaya.

Oh bukan, seorang tiba-tiba menyergahku.

Mereka takut tak makan dan memenuhi kebutuhan.

Maksudmu kemakmuran? Balasku yakin sambil mengemas barang

Sebab air selokan telah tinggal sepuluh senti saja

Setelah itu pasti akan melahap habis kasur kumalku yang hanya

Menggeletak di lantai.

Bah! Semua orang ingin makmur. Semua orang ingin tak mati konyol

Apa lagi mati ketakutan diseret benda seremeh air!

Kata-kataku sangat menimbulkan kontemplasi bermacam di kepalanya

Lalu dia bertanya sendiri, apa maksudnya pemuda ini mengataiku demikian?

Kok aku jadi sedikit getir.

Maksudmu, gara-gara selokan depan Woderia? Tempat kerjaku, katanya lagi

Aku malas menimpali lagi

Hey jawab!, bentaknya

Sudalah, aku malas berbicara

Mulutku telah busuk terus menahan ludah yang getir

Ludah semua ketakuatan dan semua jerit Genuk Krajan

Kakiku telah sangat gemetar menahan air. Bukan dingin

Tapi pahit. Ya, kakiku saja sekarang sebagai indera perasa

Maka pergilah kau dan urus pekerjaan

Sebuah tanggunggjawab.

Menengok orang yang tertimpa musibah apa bukan tanggung jawab, katanya lantang

Bah! Taik kucing!

Kalau kau benar tanggungjawab, kerjakanlah tugasmu dengan baik

Juga para petinggi-petinggimu, pelayan-pelayanmu, pe-pe-mu semua!

Itu pasti sudah sangat cukup!

 

Lalu aku lebih senang diam dan berkesiap

Begitu mendung menyerang langit sehari-harinya.

Entah sampai kapan aku merdeka dari

Selokan yang terus menghantuiku

cerpen di Aneka Yess “…. Cinta Pada Tamparan Pertama”

pengen tau gak cerpenQ di Aneka Yess edisi 16/ bulan Agustus 2007?

judulnya “Cinta Pada Tamparan Pertama” he jayus yah… ceritanya tentang seorang Jomblowan yang berkomitmen selalu NgJOMBLO pas SMA. namanya Jojo, atao Jojo Jomblo, ato Triple Jo… nah! pas kelas tiga, Jo satu kelas sama Joba. hm, dia ini kebalikan dari Jojo. dia Playboy! wah gemana urusannya neh kalo gini?

hm, kalian udah pada baca kan di Aneka Yess! ? intinya di sini, cewek lebih suka diperhatiin meskipun hanya sebatas gombal… en cewek ga seneng banget dicuekin, ga dianggep, ga diperhatiin, ga diperlakuin.

tapi inget juga… setelah cowok ngelakuin “kejahatan” sama cewek apa lagi sampai buat cewek nangis,, hmmm sudah dijamin: rasa menyesal sangat kentara! kalau sudah begini? urusan mau putus bakal gagal lantaran si cewek nangis2 di depan cowoknya. yang benci jadi seketika luluh… yah! yah!! hanya dengan air mata!!!! fiuh..